FILMISASI FIKSI (DARI NOVEL KE FILM)
A.
Pendahuluan
Filmisaksi
fiksi bukanlah hal yang baru dalam dunia seni. Filmisasi fiksi merupakan sebuah
adaptasi karya sastra ke bentuk film. Adaptasi ke bentuk film atau layar lebar sudah
lama dilakukan. Ketika teknologi yang digunakan dalam pembuatan film hanya bisa
menghasilkan gambar bergerak berwarna hitam dan putih, karya-karya sastra sudah
ditransformasikan ke film dan mendapat apresiasi khalayak luas. Beberapa karya
sastra bahkan telah diadaptasi lebih dari satu kali dalam berbagai versi, baik
dari aspek struktur, genre dan budaya. Adaptasi terus mengalami perkembangan
signifikan baik dari segi kuantitas dan kualitas. Bahkan tidak jarang film-film
adaptasi mampu meraih berbagai prestasi di ajang bergengsi.
Pemunculan
film-film yang diangkat dari karya sastra belakangan semakin marak dilakukakan.
Para pembaca karya sastra kini tak harus bersusah payah untuk menghabiskan
waktu berjam-jam, berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk membaca sebuah
karya sastra seperti novel. Para sineas atau para ahli perfilm Indonesia dengan
kemampuan dan kreativitasnya telah dapat mengembangkan dan memperkaya khasanah
sastra Indonesia dengan cara menyajikan sebuah karya sastra dalam bentuk bacaan, dalam hal ini novel menjadi sebuah film
yang dikemas apik dan menarik bagi semua kalangan. Melalui makalah ini penulis berusaha memberikan gambaran tentang adaptasi
karya sastra (dalam hal ini novel) ke bentuk film, serta perubahan-perubahan
yang terjadi dalam proses adaptasi tersebut.
B.
Pengertian, Hakikat dan Karateristik Fiksi (Novel) dan
Film
Kata fiksi berasal dari fiction yang berarti:
rekaan, khayalan, tidak berdasarkan kenyataan, atau dapat juga berarti suatu
pernyataan yang hanya berdasarkan khyalan atau pikiran semata (Muhardi dan
Hasanuddin WS, 1992:1). Salah satu bentuk karya fiksi adalah novel. Menurut Muhardi
dan Hasanuddin WS (1992:6) novel adalah sebuah cerita yang memuat beberapa
kesatuan persoalan disertai dengan faktor penyebab dan akibatnya. Persoalan
kehidupan yang diangkat seperti kesedihan, kegembiraan, pengkhianatan,
kejujuran dan permasalahan kemanusiaan lainnya yang disajikan pengarang, tokoh
yang bergerak dari satu peristiwa ke peristiwa berikutnya.
Sementara itu, film merupakan
gabungan dari berbagai ragam kesenian: musik, seni rupa, drama, serta ditambah
dengan unsur fotografi (Eneste, 1991:18). Sedangkan Ardianto (2007:143), mengatakan
bahwa film adalah bentuk dominan dari komunikasi massa visual di belahan dunia
ini. Secara umum dapat kita pahami, film merupakan hasil kreativitas seni yang
menyampaikan serangkaian peristiwa atau cerita dalam bentuk visual dan ditambah
unsur-unsur lain seperti musik, seni rupa, drama dan lain-lain.
Meski novel dan film
adalah dua genre seni yang berbeda, namun keduanya ada memiliki persamaan.
Unsur-unsur seperti plot, karakter, latar, dan sudut pandang digunakan dalalam
kedua genre seni ini. Hanya saja, karena kelebihan yang dimiliki film, membuat
masyarakat lebih cenderung menikmati film dari pada membaca karya sastra
seperti novel. Mereka bisa menyaksikan film dengan berbagai unsur yang secara
teknologi mampu memikat mereka hanya dengan duduk santai tanpa harus sibuk
membaca teks. Unsur-unsur seperti gambar bergerak, suara, dan musik mampu
mengantarkan para penikmat film memasuki dunia yang bisa mereka saksikan dan
dengarkan. Berbeda dengan cerita fiksi yang dalam proses interpretasinya
bergantung sekali dengan membaca. Lebih jauh penggambaran peristiwa dan tokoh
secara tertulis, membuat pembaca karya sastra hanya bisa memasuki alam
imajinasi.
Berkaitan dengan hal
tersebut Damono (2005:99) menjelaskan bahwa perbedaan mendasar antara karya fiksi
dan film adalah dalam hal pengembangan imajinasi pembaca dan penonton. Damono
mencontohkan cerita Sitti Nurbaya. Ketika kita membaca kisah tersebut, bayangan
mengenai kecantikan Siti Nurbaya tentunya sesuai dengan bayangan yang ada dalam
pikiran kita masing-masing. Ketika diangkat ke layar putih, sutradara harus
menentukan siapa yang akan memerankan gadis yang mahaelok itu. Dan ketika
pilihan sudah dijatuhkan dan film itu disaksikan, bisa saja masing-masing kita menjadi
kecewa karena ternyata bintang film yang memerankannya jauh dari bayangan kita
mengenai Sitti Nurbaya.
C.
Filmisasi Fiksi
Filmisasi adalah proses
transformasi atau perubahan bentuk dari karya sastra ke film. Selain filmisasi,
yang menyatakan proses transformasi sastra kebentuk film dikenal juga dengan
istilah ekranisasi (Suseno, 2011). Nella
(2012) memberikan pernyataan yang sama dengan Suseno bahwa secara
sederhana, ekranisasi dapat diartikan sebagai proses transformasi dari bentuk
novel ke dalam bentuk film. Selanjutnya Eneste (1991:60)
menjelaskan bahwa istilah ekranisasi berasal dari bahasa Prancis “ecran” yang
berarti layar. Secara lengkap Eneste menyatakan bahwa ekranisasi adalah suatu
proses pelayar putihan, pemindahan atau pengangkatan sebuah novel ke dalam film. Pemindahan dari novel ke layar putih tersebut
dapat menimbulkan berbagai perubahan. Perubahan tersebut dapat berupa
penciutan, penambahan (perluasan), dan perubahan dengan sejumlah variasi.
Sapardi
Djoko Damono (2005:96) memiliki istilah alih wahana untuk membicarakan
transformasi dari satu jenis kesenian ke jenis kesenian yang lain. Istilah ini
hakikatnya memiliki cakupan yang lebih luas dari ekranisasi. Ekranisasi
merupakan perubahan ke atau menuju layar putih, sedangkan alih wahana seperti
yang dijelaskan Sapardi bisa dari berbagai jenis karya seni ke jenis karya seni
lain. Akan tetapi, istilah ini tidak bertentangan dengan makna dan konsep dasar
yang dimiliki oleh ekranisasi sebagai proses pengubahan dari satu wahana ke
wahan lain. Sapardi Djoko Damono menjelaskan bahwa alih wahana adalah perubahan
dari satu jenis kesenian ke dalam jenis kesenian lain. Alih wahana yang
dimaksudkan di sini tentu saja berbeda dengan terjemahan. Terjemahan dan
penerjemahan adalah pengalihan karya sastra dari satu bahasa ke bahasa yang
lain, sedang alih wahana adalah pengubahan karya sastra atau kesenian menjadi
jenis kesenian lain. Sapardi Djoko Damono mencontohkan cerita rekaan diubah
menjadi tari, drama, atau film. Bukan hanya itu, alih wahana juga bisa terjadi
dari film menjadi novel, atau bahkan puisi yang lahir dari lukisan atau lagu
dan sebaliknya. Alih wahana novel ke film misalnya, tokoh, latar, alur, dialog,
dan lain-lain harus diubah sedemikian rupa sehingga sesuai dengan keperluan
jenis kesenian lain.
Perbedaan-perbedaan yang terjadi
antara film dan novel yang diadaptasikan,
menurut Eneste (1991:61—65), terletak pada proses kreatif yang dilakukan
oleh sutradara dengan cara mengadakan penambahan, pengurangan, dan pemunculan
variasi-variasi alur cerita. Bermacam-macam penambahan, pengurangan dan
pemberian variasi-variasi tersebut adalah sebagai akibat medium yang berbeda antara
film hasil transformasi dengan novel yang diadaptasi, sehingga mengakibatkan
pula terjadinya perubahan fungsi khususnya dalam alur cerita.
Suseno (2011) menyatakan ada
beberapa aspek yang dipertimbangkan di dalam ekranisasi karya sastra ke dalam
bentuk film. Salah satunya adalah aspek durasi penikmatan atau pembacaan. Waktu
yang dibutuhkan untuk menikmati atau membaca karya sastra tentu saja berbeda
dengan waktu yang dibutuhkan untuk menikmati atau menonton film. Waktu untuk
membaca karya sastra lebih longgar, lebih luas. Sedangkan film, waktu
penikmatannya cenderung lebih terbatas. Keadaan tersebut tentu menjadi faktor
yang penting untuk dipertimbangkan dalam transformasi karya sastra menjadi
film.
Menurut Eneste (1991:61-64) salah
satu langkah yang ditempuh dalam proses transformasi sastra ke film adalah
penciutan. Penciutan adalah pengurangan atau pemotongan unsur cerita dalam
sastra, dalam proses transformasi. Penciutan dapat dilakukan terhadap unsur
sastra seperti cerita, alur, tokoh, latar, maupun suasana. Dengan adanya proses
penciutan atau pemotongan maka tidak semua hal yang diungkapkan dalam novel
akan dijumpai pula dalam film. Dengan demikian berarti akan terjadi
pemotongan-pemotongan atau penghilangan bagian di dalam karya sastra dalam
proses transformasi ke film. Menurut Wildan (2012) untuk melayar putihkan novel
kita tidak mungkin semua hal yang terjadi dalam novel diceritakan dalam film,
maka dari itu terjadi pemotongan kejadian-kejadian. Sutradara pastinya sudah menangkap
hal-hal yang penting dalam novel
yang
akan difilmkan.
Selanjutnya Eneste (1991: 64-65) menjelaskan
bahwa kemungkinan lain yang dapat terjadi dalam proses transformasi sastra ke
bentuk film adalah penambahan (perluasan). Seperti halnya dalam kreasi
penciutan, dalam proses ini juga biasa terjadi pada ranah cerita, alur,
penokohan, latar, maupun suasana. Penambahan yang dilakukan dalam proses
ekranisasi ini tentu memiliki alasan, baik alasan pentingnya penambahan, alasan
relevansinya dengan cerita secara keseluruhan, ataupun karena alasan lain. Eneste
(1991:64) menyatakan bahwa seorang sutradara mempunyai alasan tertentu
melakukan penambahan dalam filmnya karena penambahan itu penting dari sudut
filmis.
Selain penciutan dan penambahan,
ekranisasi memungkinkan terjadinya perubahan variasi-variasi tertentu antara
novel dan film. Variasi di sini biasa terjadi dalam ranah ide cerita, gaya
penceritaan, dan lain-lain. Terjadinya variasi dalam transformasi dipengaruhi
oleh beberapa faktor, antara lain media yang digunakan, persoalan penonton,
durasi waktu pemutaran. Dalam mengekranisasi, pembuat film merasa perlu membuat
variasi-variasi dalam film, sehingga terkesan film yang didasarkan atas novel
itu tidak seasli novelnya (Eneste, 1991:65-67).
Ekranisasi
dari novel ke film biasanya dikarenakan novel tersebut sudah terkenal sehingga
masyarakat pada umumnya sudah tidak asing lagi terhadap cerita tersebut yang
pada akhirnya mendukung aspek komersial. Selain itu, ada juga yang
menitikberatkan pada ide cerita yang dianggap bagus. Sementara untuk penulis
skenario, proses adaptasi cukup membantu dalam menggagas sebuah cerita yang
akan disajikan dalam film. Di Indonesia sendiri pun banyak
sekali film yang lahir dari karya sastra seperti, novel yang berjudul Ayat-Ayat
Cinta karya Habiburrahman El Shirazy yang difilmkan dengan judul yang sama
oleh Hanung Bramantyo pada tahun 2007, novel Di Bawah Lindungan Ka’bah
karangan Hamka, novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata, novel Habibie
dan Ainun karya BJ Habibie, novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere
Liye, Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi, dan banyak lagi film-film laris
dari sutradara terkenal Indonesia yang juga merupakan adaptasi dari novel. Berikut analisis salah satu
contoh novel yang di adaptasi ke film, yakni novel Ayat-ayat Cinta karya
Habiburrahman El Shirazy.
D.
Analisis Novel
a.
Ayat-Ayat
Cinta (AAC
ke Film)
1.
Sinopsis
Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar
masternya di Al-Azhar. Berteman dengan panas dan debu Mesir. Berkutat dengan
berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi
penerjemah buku-buku agama. Belajar di Mesir membuat Fahri dapat mengenal
Maria, Nurul, Noura, dan Aisha.
Maria adalah tetangga satu flat Fahri, yang beragama Kristen Koptik tapi
mengagumi Al-Qur’an dan mengagumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta.
Sayangnya, cinta Maria hanya tercurah dalam diary saja. Sementara Nurul adalah
anak seorang kyai terkenal, yang juga mengeruk ilmu di Al-Azhar. Sebenarnya
Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang, rasa mindernya yang hanya
keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apa pun pada Nurul.
Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak.
Noura adalah tetangga Fahri, yang selalu disiksa Ayahnya sendiri. Fahri
berempati penuh dengan Noura dan ingin menolongnya. Hanya empati saja, tidak
lebih. Namun Noura mengharapkan yang lebih, dan nantinya ini menjadi masalah
besar ketika Noura menuduh Fahri memperkosanya.
Dan yang terakhir adalah Aisah. Si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak
sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku,
Aisha jatuh cinta pada Fahri, dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya.
Fahri kenalan dengan Aisha di dalam metro. Fahri sedang dalam perjalanan menuju
Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara
kota Cairo, untuk talaqqi (belajar secara face to face pada seorang syaikh)
pada Syaikh Utsman, seorang Syaikh yang cukup tersohor di Mesir.
Dengan menaiki metro, Fahri berharap ia akan sampai tepat waktu di Masjid
Abu Bakar As-Shiddiq. Di metro itulah ia bertemu dengan Aisha. Aisha yang saat
itu dicacimaki dan diumpat oleh orang-orang Mesir karena memberikan tempat
duduknya pada seorang nenek berkewarganegaraan Amerika, ditolong oleh Fahri.
Pertolongan tulus Fahri memberikan kesan yang berarti pada Aisha. Mereka pun
berkenalan. Terrnyata Aisha bukanlah gadis Mesir, melainkan gadis Jerman yang
juga tengah menuntun ilmu di Mesir.
Di Mesir Fahri tinggal bersama dengan keempat orang temannya yang juga
berasal dari Indonesia. Mereka adalah Siful, Rudi, Hamdi, dan Misbah. Mereka
tinggal di sebuah apartemen sederhana yang mempunyai dua lantai, di mana lantai
dasar menjadi tempat tinggal Fahri dan empat temannya, sedangakan yang lantai
atas ditempati oleh keluarga Kristen yang sekaligus menjadi tetangga mereka.
Keluarga ini terdiri dari Tuan Boutros, Madame Nahed dan dua orang anak mereka,
yaitu Maria dan Yousef.
Walau keyakinan dan aqiqah mereka berbeda, tapi antara keluarga Fahri dan
Tuan Boutros terjalin hubungan yang sangat baik. Terlebih Fahri dan Maria
berteman begitu akrab. Fahri menyebut Maria sebagai gadis kristen yang aneh.
Bagaimana tidak, Maria mampu menghafal surat Al-Maidah dan surat Maryam.
Selain bertetangga dengan keluarga Tuan Boutros, Fahri juga mempunyai
tetangga lain berkulit hitam yang perangainya berbanding 180 derajat dengan
keluarga Boutros. Kepala keluarga ini bernama Bahadur. Istrinya bernama Madame
Syaima dan anak-anaknya bernama Mona, Suzanna, dan Noura. Bahadur, Madame
Syaima, Mona, dan Suzanna sering menyiksa Noura karena rupa serta warna rambut
Noura yang berbeda dengan mereka. Noura berkulit putih dan berambut pirang.
Suatu malam, Noura diusir Bahadur dari rumah. Noura diseret ke jalam sambil
dicambuk. Tangisannya memilukan, Fahri tidak tega melihat Noura diperlakukan
demikian oleh Bahadur. Ia meminta Maria melalui sms untuk menolong Noura. Fahri
tidak bisa menolong Noura secara langsung, karena Noura bukan muhrimnya. Maria
pun bersedia menolong Noura malam itu. Ia membawa Noura ke flatnya. Fahri dan
Maria berusaha mencari tahu siapa keluarga Noura sebenarnya. Mereka yakin Noura
bukanlah anak Bahadur dan Madame Syaima. Dan benar, Noura bukanlah anak mereka.
Noura yang malang itu akhirnya bisa berkumpul bersama orang-orang yang
menyayanginya. Ia sangat berterima kasih pada Fahri dan Maria.
Sementara itu, Aisha tidak dapat melupakan pemuda yang baik hati mau
menolongnya di metro saat itu. Aisha rupanya jatuh hati pada Fahri. Ia meminta
pamannya Eqbal untuk menjodohkannya dengan Fahri. Kebetulan, paman Eqbal
mengenal Fahri dan Syaik Utsman. Melalui bantuan Syaik Utsman, Fahri pun
bersedia untuk menikah dengan Aisha.
Mendengar kabar pernikahan Fahri, Nurul menjadi sangat kecewa. Paman dan
bibinya sempat datang ke rumah Fahri untuk memberitahu bahwa keponakannya
sangat mencintai Fahri. Namun terlambat, Fahri akan segera menikah dengan
Aisha. Malang benar nasib Nurul.
Pernikahan Fahri dengan Aisha pun berlangsung. Fahri dan Aisha memutuskan
untuk berbulanmadu di sebuah apartemen cantik selama beberapa minggu. Sepulang dari bulanmadunya, Fahri mendapat
kejutan dari Maria dan Yousef. Maria dan
adiknya itu datang ke rumah Fahri untuk memberikan sebuah kado pernikahan.
Namun Maria tampak lebih kurus dan murung. Memang, saat Fahri dan Aisha
menikah, keluarga Boutros sedang pergi berlibur. Alhasil, begitu mendengar
Fahri telah menjadi milik wanita lain dan tidak lagi tinggal di flat, Maria
sangan terpukul.
Kebahagiaan Fahri dan Aisha tidak bertahan lama, karena Fahri harus
menjalani hukuman di penjara atas tuduhan pemerkosaan terhadap Noura. Noura
teramat terluka saat Fahri memutuskan untuk menikah dengan Aisha. Di
persidangan, Noura yang tengah hamil itu memberikan kesaksian bahwa janin yang
dikandungannya adalah anak Fahri. Pengacara Fahri tidak dapat berbuat apa-apa,
karena ia belum memiliki bukti yang kuat untuk membebaskan kliennya dari segala
tuduhan. Fahri pun harus mendekam di bui selama beberapa minggu.
Satu-satunya saksi kunci yang dapat meloloskan Fahri dari fitnah kejam
Noura adalah Maria. Maria lah yang bersama Noura malam itu (malam yang Noura
sebut dalam persidangan sebagai malam di mana Fahri memperkosanya). Tapi, Maria
sedang terluka lemah tak berdaya. Luka hati karena cinta yang bertepuk sebelah
tangan membuatnya jatuh sakit. Tidak ada jalan lain, atas desakan Aisha, Fahri
pun menikahi Maria. Aisha berharap, dengan mendengar suara dan merasakan
sentuhan tangan Fahri, Maria tersadar dari koma panjangnya. Dan harapan Aisha
menjadi kenyataan. Maria dapat membuka matanya dan kemudian bersedia untuk
memberikan kesaksian di persidangan. Alhasil, Fahri pun terbebas dari tuduhan
Noura. Dengan kata lain, Fahri dapat meninggalkan penjara yang mengerikan itu. Noura
menyesal atas perbuatan yang dilakukannya. Dengan jiwa besar, Fahri memaafkan
Noura. Dan terungkaplah bahwa ayah dari bayi dalam kandungan Noura adalah
Bahadur.
Fahri, Aisha, dan Maria mampu menjalani rumah tangga mereka dengan baik.
Aisha menganggap Maria sebagai adiknya, demikian pula Maria yang menghormati
Aisha selayaknya seorang kakak. Tidak ada yang menduga jika maut akhirnya
merenggut Maria. Namun Maria beruntung karena sebelum ajal menjemputnya, ia
telah menjadi seorang mu’alaf.
2.
Pembahasan
a.
Pengurangan
1) Pengurangan
Peristiwa
Salah satu
kutipan peristiwa novel yang tidak ada dalam film, yaitu peristiwa Fahri jatuh
sakit dan harus dirawat di rumah sakit.
“Dalam keremangan gelap aku melihat ada cahaya.
Perlahan aku membuka mata. Aku melihat langit-langit berwarna putih. Bukan
langit-langit kamarku. Langit-langit kamarku biru muda. Kepalaku masih berat.
“Alhamdulillah. Kau sudah tersadar Mas”, suara
Saiful serak. Aku memandang wajahnya.
“A..aku di…di mana?” lidahku terasa kelu sekali.
“Di rumah sakit Mas”, Lirih Saiful.
“Kenapa?”
“Sudahlah Mas Istirahat dulu. Jangan memikirkan
apa-apa dulu”, kepalaku terasa nyeri kembali. Aku berusaha berpikir,
mengingat-ingat apa yang terjadi padaku sehingga ada di rumah sakit ini.
Perjalanan melelahkan, kepanasan dengan perut kosong. Membuka pintu dengan
kepala sakit luar biasaa seperti dihantam palu godam. Lalu gelap”. (El Shirazy,
2005:174)
2) Pengurangan
Tokoh
Tuan
Boutros merupakan tokoh yang tidak ditampilkan oleh sutradara. Di dalam
ekranisasi, film hanya menampilkan tokoh-tokoh yang dianggap penting saja.
Berikut ini kutipan yang menerangkan adanya tokoh Tuan Boutros.
“Sampai di kamar sudah ada Maria dan keluarganya.
Maria menatapku dengan wajah sedih, juga Yousef, Tuan Bouttros dan Madame Nahed.
Mereka tahu kalau pagi ini aku akan dioperasi maka mereka dating untuk
melihatku sebelum masuk ke ruang operasi”. (El Shirazy, 2005:189).
3)
Pengurangan Latar
Latar
tempat novel yang tidak ditampilkan di dalam film antara lain adalah Cleopatra
Restaurant, Attaba, dan Hotel DSan Stefano, Alexandria. Berikut ini kutipan
dari latar tempat dalam nolel yang tidak ditampilkan dalam film.
“Akhirnya Tuan Butros memarkir mobilnya di halaman
sebuah restaurant mewah. Cleopatra Restaurant. Terletak di pinggir sungai Nil”.
(El Shirazy,2005:127)
Dua hari menjelang keberangkatan ke Alexandria kami
belanja ke Attaba”. Pasar rakyat paling besar di Mesir”. (El Shirazy, 2005:281)
b.
Penambahan
1) Penambahan
Peristiwa
Peristiwa
merupakan kegiatan dari seorang tokoh atau sekelompok tokoh pada suatu tempat
dan pada waktu tertentu. Novel dan film AAC mempunyai banyak sekali peristiwa. Salah
satu peristiwa film yang tidak ada dalam novel adalah ketika Aisha mencari
surat cinta dari Noura di rumah Syaikh Ustman.
2) Penambahan
Tokoh
Tokoh
merupakan pelaku dalam cerita. Tokoh utama dari novel AAC adalah Fahri, dan
terdapat beberapa orang tokoh tambahan. Ketika sebuah novel di angkat menjadi
sebuah film, maka kemungkinan akan terjadi penambahan beberapa orang tokoh.
Namun, hal tersebut tidak terjadi dengan ekranisasi novel AAC. Di dalam film
AAC yang disutradarai Hanung Bramantyo ini tidak ada penambahan tokoh.
3) Penambahan
Latar
Secara
umum pengarang menuliskan latar tempat yang terdapat di dalam novel AAC adalah
di mesir. Sutradara film AAC menambahakan salah satu latar yang ditambahkan
oleh sutradara dalam film AAC yaitu rumah Ustad Jalai.
c.
Perubahan
Bervariasi
1) Variasi-variasi
Peristiwa.
Variasi-variasi
peristiwa dalam novel yang dilakukan sutradara ke dalam film berjumlah delapan
buah peristiwa. Peristiwa-peristiwa tersebut adalah sebagai berikut.
a) Di dalam
film Maria menitip CD kepada Fahri, sementara di dalam novel dia menitip disket
kepada Fahri (el shirazi, 2005: 21-22).
b) Di dalam
film Fahri dan Asraf sudah lama kenal sehingga mereka menanyakan kabar
masing-masing dan membicarakan masalah bola. Namun, di dalam novel dijelaskan
bahwa Fahri dan Asraf berkenalan dahulu, baru kemudian mereka membincangkan
masalah bola. (El shirazi 2005: 34-36)
c) Di dalam
film Fahri mengetahui kisah penderitaan Noura langsung dari Noura sendiri.
Sementara di dalam novel, Fahri mengetahui kisah penderitaan Noura dari surat
yang diberikan oleh Nurul kepadanya. (El Shirazi,
2005:133-136)
d) Di dalam
novel Bahadur mencari Noura dipasar , tetapi di dalam novel disebutkan bahwa
Bahadur encari Noura melalui tayangan orang hilang di
televise. (El Shirazi, 2005:198-199)
e) Di dalam
film Fahri mencurahkan kegelisahan pada saat ditawarka taaruf oleh Shaikh
Ustman kepada Saiful. Sementara didalam novel di sebutkan, Fahri gelisah pada
saat ditawarkan taaruf oleh Syaikh Ustman, sehingga dia bolah-balik menemui
Syaikh Ustman. (El Shirazi, 2005:203-207)
f) Di dalam
film Maria meninggal dunia ketika meminta di ajari shalat kepada Fahri. Maria
telah masuk islam pada waktu dia sadar dari komanya setelah menikah dengan
Fahri di rumah sakit. Sementara di dalam novel disebutkan, Maria meninggal
setelah dia meminta berwudhu kepada Fahri dan Aisa. Kemudian dia mengucapkan
dua kalimat Syahadat. Tidak lama kemudian dia meninggal dunia dalam keadaan
islam. Berikut
ini kutipan dari novel.
“Bantulah aku berwudhu. Aku masih mencium bau surga.
Wanginya merasuk ke dalam sukma. Aku ingin masuk
ke dalamnya. Di sana aku berjanji akan
mempersiapkan segalanya dan menunggumu untuk bercinta. Memadu kasih dalam cahaya kesucian dan kerelaan Tuhan
selama-lamanya. Suamiku, bantu aku berwudhu
sekarang juga!”
Aku menuruti keinginan Maria. Dengan sekuat tenaga
aku membopong Maria yang kurus
kering ke kamar mandi. Aisha membantu membawakan tiang infus. Dengan
tetap kubopong, Maria diwudhui oleh Aisha. Setelah selesai, Maria kembali kubaringkan di atas kasur
seperti semula. Dia menatapku dengan sorot mata
bercahaya. Bibirnya tersenyum lebih indah dari biasahnya. Lalu dengansuara
lirih yang keluar dari relung jiwa ia berkata:
Asyhadu
an laa ilaaha illallah
wa
asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh!
Ia tetap tersenyum. Menatapku tiada berkedip.
Perlahan pandangan matanya
meredup. Tak lama kemudian kedua matanya yang bening itu tertutup rapat. Kuperiksa nafasnya telah tiada.
Nadinya tiada lagi denyutnya. Dan jantungnya
telah berhenti berdetak. Aku tak kuasa menahan derasnya lelehan air mata. Aisha juga.
Inna
lillahi wa inna ilaihi raajiun! (El
Shirazi, 2005:393-403)
2) Variasi-variasi
Tokoh
Variasi-variasi
tokoh dalam novel yang dilakukan sutradara ke film terdapat dalam lima buah
peristiwa. Peristiwa-peristiwa tersebut sebagai berikut.
a) Di dalam
film Noura yang memberikan langsung surat cinta kepada Fahri. Sementara di
dalam novel disebutkan, Syaikh Ahmad yang memberikan surat cinta Noura kepada
Fahri. Berikut
ini kutipan dari novel.
Ketika
aku mengambil naskah yang dikoreksi Syaikh Ahmad, beliau bercerita sedikit tentang Noura. Gadis innocent
itu senang di Tafahna. Kebetulan satu
hari sebelumnya, Ummu Aiman, isteri Syaikh Ahmad menjenguk ke sana. Syaikh Ahmad sedang melacak sebenarnya
siapa Si Muka Dingin Bahadur itu. Apakah
benar ayahnya atau bukan? Syaikh Ahmad mendapatkan informasi Noura dilahirkan di klinik bersalin
Heliopolis. Bagaimana sejarahnya Noura bisa terlahir di klinik elite di kawasan elite itu?
Syaikh Ahmad sedang menyelidikinya dengan bantuan
Ridha Shahata, sepupunya yang menjadi staf intelijen Dewan Keamanan Negara atau yang disebut “Mabahits Amn
Daulah”. Aku yakin tak lama lagi Noura
kembali hidupnya yang penuh ketenteraman. Sebelum aku pulang beliau menyerahkan sepucuk surat kepadaku,
beliau bilang, “Surat ini yang membawa Ummu
Aiman, dari Noura, katanya ucapan terima kasih padamu!” (El Shirazi, 2005:162)
b) Di dalam
film Fahri memberikan surat cinta Noura kepada Syaikh Ustman. Sementara di
dalam novel disebutkan, Fahri memberikan surat cinta Noura kepada Syaikh Ahmad. (El Shirazi, 2005:163-169)
c) Di dalam
film Aisha yang meminta Fahri untuk merekam suaranya untuk Maria. Sementara
didalam novel disebutkan bahwa Madane Nahed dan Yousef yang meminta Fahri untuk
merekam suaranya untuki Maria. (El Shirazi,
2005:340-343)
d) Di dalam
film pengacara Fahri yang meminta izin keluar Fahri dari penjara untuk ke rumah
sakit tempat Maria dirawat. Sementara di dalam novel disebutkan, Tuan Boutros
dan Madane Nahed yang meminta izin keluar Fahri dari penjara ke rumah sakit
tempat Maria dirawat. (El Shirazi, 2005:365-367)
e) Di dalam
film Aisha yang memberikan diary Maria kepada Fahri. Sementara di dalam novel
disebutkan, Tuan Butros yang memberikan diary Maria kepada Fahri. (El Shirazi, 2005:368-376)
3) Variasi-variasi
Latar
Variasi-variasi
latar tempat dan waktu dalam novel yang dilakukan sutradara ke dalam film
terdapat dalam enam peristiwa. Peristiwa-peristiwa tersebut sebagai berikut.
a) Di dalam
film perkenalan Fahri dengan Aisha dan Alicia di
pasar. Sementara di dalam novel disebutkan Fahri berkenalan dengan Aisha dan
Alicia di dalam metro. Berikut
ini kutipan dari novel.
“Sind
Sie Herr Fahri?”
Aku
tersenyum mendengar pertanyaannya. Ia bertanya seperti itu. Berarti ia benar-benar mendengarkan dengan baik
pendebatanku dengan tiga orang Mesir tadi
sehingga tahu namaku. Atau dia mendengarkan aku berkenalan dengan Alicia.
“Ja.
Mein name ist Fahri.” Jawabku.
“Mein
name ist Aisha,” sahutnya sambil menyerahkan kartu nama. Ia lalu menyodorkan buku notes kecil dan pulpen.
“Bitte,
schreiben Sie ihren namen!” katanya.
Kuterima buku notes kecil dan pulpen itu. Aku paham
maksud Aisha, tentu tidak
sekadar nama tapi dilengkapi dengan alamat atau nomor telpon. Masinis metro membunyikan tanda
alarm bahwa sebentar lagi pintu metro akan ditutup
dan metro akan meneruskan perjalanan. Aku hanya menuliskan nama dan nomor handphone-ku. (El shirazi 2005: 54-56)
b) Di dalam
film perkenalan Aisha dengan Nurul terjadi
setelah Fahri dengan Aisha menikah. Sementara di dalam novel disebutkan, Aisha
berkenalan dengan Nurul sebelum dia menikah dengan Fahri. (El Shirazi, 2005:104-108)
c) Di dalam
film Fahri membaca surat cinta Noura di jalan. Sementara di dalam novel
disebutkan, Fahri membaca surat cinta Noura di dalam kamarnya. (El Shirazi, 2005:171-172)
d) Di dalam
film Maria makan malam dengan Fahri dan Aisha di sebuah restoran. Sementara di
dalam novel disebutkan, Maria makan malam dengan Aisha dan Fahri di rumah
Aisha. (El Shirazi, 2005:284-285)
b.
Novel
Negeri 5 Menara
1.
Sinopsis
Diceritakan
dalam novel tersebut, perjuangan seorang anak yang bernama Alif Fikri, lahir di
ranah minang tepatnya di desa Bayur daerah Danau Maninjau. Berasal dari negeri
yang sama dengan buya Hamka. Alif menamatkan sekolah dasar dan Tsanawiyah
(setingkat SMP) di Maninjau. Setamat Tsanawiyah Alif Fikri mempunyai harapan
besar untuk menyambung sekolah ke SMA Bukittinggi. Ia bercita-cita ingin
menjadi seperti Habibie. Namun keinginan kedua orang tuanya berbeda dengan
harapan dan cita-cita Alif. Ibunya menginginkan agar Alif melanjutkan ke jalur
pendidikan agama Islam, Madrasah Aliyah (MA) dan menjadi seorang ahli agama
suatu saat nanti. Kondisi tersebut membuat
Alif dilanda kekalutan dan kebimbangan, antara berbakti pada orang tua dengan
mengikuti keinginan ibunya, yaitu melanjutkan bersekolah ke Madrasah Aliyah
ataukah melanjutkan mimpinya untuk sekolah di SMA umum. Hingga akhirnya,
melalui saran Pak Etek Gindo salah seorang kerabat, Alif dengan berat hati
memenuhi permintaan orangtuanya untuk menempuh jalur pendidikan agama Islam
tetapi dengan suatu syarat. Alif tidak mau masuk Madrasah Aliyah (MA) di
Minang, tetapi ia memilih mendalami ilmu agama ke Pondok Madani (PM), sebuah
pesantren di Jawa Timur.
Berangkatlah Alif ke pulau Jawa,
perjalanan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sesampainya di Pesantren
Pondok Madani (PM) Alif disambut dengan spanduk besar yang berbunyi “ Ke Madani
Apa yang Kau Cari”. Hatinya terkejut, “Ya, apa yang sebenarnya yang aku cari,
hanya karena memberontak tidak boleh masuk SMA?, dan lebih penting lagi apakah
aku bisa bertahan?” Alif merenungi segala keputusannya.
Perjalanan
hidup Alif sebagai salah satu siswa pondok pesantren pun dimulai. Bersama lima
sahabatnya, Raja Lubis
dari medan, Said Jufri dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso Salahuddin dari Gowa, ia lalui suka dan duka selama di
pesantren. Peraturan pesantren yang sangat ketat, jadwal
kegiatan yang padat, kewajiban memakai bahasa Inggris dan Arab dalam setiap
kegiatan komunikasi, serta hukuman yang siap menanti sekecil apapun kesalahan
yang diperbuat, membuat Alif tidak tahan pada saat awal-awal bersekolah di
pondok pesantren. Gelombang emosi Alif yang naik turun menghiasi hari-harinya
pada saat menimba ilmu di pondok pesantren tersebut. Ragu dan menyesal sempat
terbersit di benak Alif, apalagi ketika Alif menerima surat dari sahabat dekat
yang sekaligus rivalnya ketika sekolah dulu, yaitu Randai, yang kini seolah
sedang berjaya di sebuah SMA Favorit di Bukit Tinggi, sebuah SMA impian Alif.
Seiring berjalannya waktu, lambat
laun Alif dan sahabat-sahabatnya dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan PM.
Bersama, mereka saling menasehati, saling berbagi mimpi, dan saling membantu
satu sama lain. Mereka sekolah, belajar dan berasrama dari kelas 1 sampai kelas
6. Kian hari mereka semakin akrab dan memiliki kegemaran yang sama yaitu duduk
dibawah menara pondok madani. Dari kegemaran yang sama mereka menyebut diri
mereka sebagai Sahibul Menara. Kehidupan PM yang ketat dalam menerapkan
disiplin membuat mereka harus saling mendukung agar kerasan menyelesaikan 6
tahun sekolah.
Banyak hal yang Alif dan
kawan-kawannya dapatkan dari PM, tidak hanya pelajaran “biasa”, tetapi juga
pelajaran tentang kehidupan, yang ia bawa sebagai bekal di kehidupan
selanjutnya. Tekanan hidup tidak membuat Alif dan para santri lainnya menjadi
patah dan mengkerut, tetapi justru membuat mereka semakin kuat mental dan tahan
banting. Hasilnya, mereka menjadi pribadi-pribadi muda yang tegar, optimistis,
percaya diri, juga fasih berbahasa Arab dan Inggris.
[
2.
Pembahasan
a.
Pengurangan
Mengadaptasi sebuah
novel yang terdiri dari 25 bab menjadi sebuah skenario film berdurasi 120 menit
tidaklah mudah. Pasti ada beberapa bagian yang harus dihilangkan. Rekontruksi
cerita terkadang menjadi pilihan agar setiap adegan menjadi singkat dan berkaitan,
namun tidak keluar dari ide utama. Namun pengurangan peristiwa yang tidak tepat
terkadang membingungkan penonton dan membuat jalan cerita menjadi bias. Berikut beberapa contoh pengurangan peristiwa yang ada di dalam
novel “Negeri 5 Menara “ yang tidak terdapat di dalam film.
Pertama,
peristiwa yang terdapat dalam bab yang berjudul “Pesan dari Masa Silam”.
Peristiwa ini merupakan kisah dimulainya cerita dalam novel negeri lima menara.
Tokoh yang bernama Alif Fikri atau tokoh aku diawal cerita, dikisahkan berada
di sebuah kantor di kota Washington DC. Seperti kutipan di bawah ini.
“Walau dingin menusuk
tulang, hari ini aku lebih bersemangat dari biasa. Ini hari terakhirku masuk
kantor sebelum terbang ke Eropa, untuk tugas dan sekaligus urusan pribadi.
Tugas liputan ke London untuk wawancara dengan Tony Blair, perdana menteri
Inggris, dan misi pribadiku menghadiri undangan The World Inter-Faith Forum.
Bukan sebagai peliput, tetapi sebagai salah satu panelis. Sebagai wartawan asal
Indonesia yang berkantor di AS, kenyang meliput isu muslim Amerika, termasuk
serangan 11 September 2001” (Fuadi, 2011:3)
Selain peristiwa di atas, bab yang
terdapat dalam novel yang tidak diangkat ke dalam film seperti bab yang
berjudul “Sang Renanaisance”, bab “Agen 007”, bab “Sarung dan Kurban”, bab
“Thanks God It’s Friday”, bab Keajaiban Itu Datang Pagi-pagi”, dan masih ada
bab lainnya. Banyak bagian-bagian penting dari novel yang membuat cerita
menjadi menarik dan hidup tidak diangkat ke film. Sehingga lika-liku perjuangan
alif dan kawan-kawan menempuh pendidikan di Pondok Madani tidak terlalu
terdeskripsikan melalui film. Selain pengurangan peristiwa, terdapat juga
pengurangan tokoh. Seperti tokoh Ustad Khalid dan istrinya, Ustad Khaidir, pak
Yunus ayah Atang dan tokoh-tokoh lain yang mendukung cerita di dalam novel.
Pengurangan peristiwa, secara langsung mengurangi latar yang terdapat dalam
film. Misalnya latar yang tidak terdapat dalam film, namun ada di dalam novel,
seperti toko koperasi tempat Alif membeli buku-buku, rumah Ustad Khalid, dapur
Pondok Madani yang sering antri oleh para santri menunggu giliran, pasar, dan
masih banyak latar yang tidak ditampilkan di film.
b.
Penambahan
Sebagai
hasil dari sebuah kreatifitas, tidak menutup kemungkinan terjadinya
penambahan-penambahan peristiwa, tokoh atau pun latar oleh penggarap film,
dengan berbagai tujuan dan alasan. Ada beberapa penambahan peristiwa, tokoh,
atau pun latar yang terdapat dalam film Negeri 5 Menara. Penambahan peristiwa
itu diantaranya:
1. Peristiwa
Randai yang menemui Alif sebelum berangkat ke Jawa (menit ke 13: 30).
2. Alif
ikut ayahnya menjual kerbau di pasar ternak (menit 7:14)
3. Alif
dan Sahibul Menara memperbaiki generator listrik yang rusak di PM.
4. Alif
mengunjungi Randai di tempat kosnya di Bandung (1:19 menit)
5. Dan
sebagainya.
Selain
penambahan peristiwa, terdapat juga penambahan tokoh. Seperti tokoh Annisa anak
kiai Rais, istri kiai Rais, Ahmad, adik-adik Alif dan lain-lain.
c. Perubahan
Perubahan yang terdapat dalam film
Negeri 5 Menara dapat dilihat dari berbagai peristiwa, diantaranya:
1. Di
novel, yang menasehati Alif agar yakin untuk masuk sekolah agama adalah ibunya
(amak) (halaman 6-9), sedangkan di film, yang menasehati Alif adalah ayahnya
(menit 6:50).
2. Di
novel (halaman 40-41) perkenalan dengan ustad Salman tidak disertai dengan
peristiwa ustad Salman memotong kayu dengan parang berkarat, seperti yang
terdapat di film (menit 28:20).
3. Di
novel Alif bertemu Sarah di rumah ustad Khalid (halaman 254-256), sedangkan di
film Alif bertemu Sarah di tempat latihan olah raga (jam 1:2).
4. Di
novel Alif mewawancarai ustad Khalid (halaman 254-256), sedangkan di film yang
diwawancarai Alif adalah kiai Rais (jam 1:8).
Selain
perubahan-perubahan di atas, masih banyak perubahan peristiwa yang lain.
Terkadang perubahan yang terdapat di film mengurangi kekuatan cerita yang
seharusnya mampu memberikan deskripsi seperti yang terdapat dalam novel. Alur
cerita yang terdapat pada film Negeri Lima Menara banyak mengalami perubahan
dari bentuk aslinya. Bahkan ada bagian-bagian peristiwa pada novel yang
dipertukarkan alur ceritanya di film.
E.
Penutup
Adaptasi karya sastra ke layar lebar
sudah sejak lama dilakukan. Tidak hanya di luar negri, di Indonesia
pengadaptasian karya sastra, yang dikenal dengan ekranisasi ini, belakangan
banyak dialakukan. Novel-novel karya penulis terkenal dijadikan sebagai sumber
inspirasi dalam pembuatan film oleh sineas-sineas muda di Indonesia.
Transformasi karya sastra ke layar lebar semakin membuat karya tersebut semakin
terkenal. walaupun tidak seluruh karya sastra yang diangkat ke film mendapat
tanggapan positif dari masyarakat. Dalam ekarnisasi sering terjadi
perubahan-perubahan dari karya fiksi ke film, namun perubahan tersebut tidak
selalu merupakan kekurangan, bahkan menjadi suatu kelebihan. Adakalanya suatu
karya fiksi, setelah diangkat ke layar lebar menjadi lebih terkenal
dibandingkan ketika masih dalam bentuk novel atau fiksi, atau sebaliknya. Oleh
karena itu, kita sebagai penikmat sastra hendaknya dapat memberikan apresiasi
terhadap karya seni, khususnya karya fiksi. Karena dalam setiap kreativitas
manusia tidak terhindar dari segala kekurangan atau pun kelebihannya.
Daftar Rujukan
Amalina, Nella. 2012. Maraknya Fenomena Ekranisasi di Indonesia.
(http://nellaamalina.blogspot.com/2012/11/maraknya-fenomena-ekranisasi-di.html). Diunduh 17 Februari
2013.
Ardianto,
Elvinaro. 2007. Komunikasi Masa.
Bandung: Refika Offset.
Damono, Sapardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan.
Jakarta: Pusat Bahasa.
Eneste, Pamusuk.
1991. Novel dan Film. Jakarta: Nusa
Indah
Fuadi, Ahmad. 2011. Negeri Lima Menara. Jakarta: PT Gramedia.
Muhardi dan Hasanuddin WS. 1992. Prosedur Analisis Fiksi. Padang: IKIP
Padang Press.
Rohman, Wildan Taufiqur. 2012. Ekranisasi Novel dan Film di Bawah Lindungan
Ka’bah. (http://jayustic.blogspot.com/2012/10/ekranisasi-novel-dan-film-di-bawah.html). Diunduh 17
Februari 2013.
Suseno. 2011. Ekranisasi. (http://indonesia.unnes.ac.id/artikel/filmisasi-karya-sastra-indonesia-kajian-ekranisasi-pada-cerpen-dan-film-%E2%80%9Ctentang-dia%E2%80%9D.html). Diunduh 14
Februari 2013.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar