Jumat, 17 April 2015

FILMISASI FIKSI (DARI NOVEL KE FILM)



FILMISASI FIKSI (DARI NOVEL KE FILM)

A.  Pendahuluan

Filmisaksi fiksi bukanlah hal yang baru dalam dunia seni. Filmisasi fiksi merupakan sebuah adaptasi karya sastra ke bentuk film. Adaptasi ke bentuk film atau layar lebar sudah lama dilakukan. Ketika teknologi yang digunakan dalam pembuatan film hanya bisa menghasilkan gambar bergerak berwarna hitam dan putih, karya-karya sastra sudah ditransformasikan ke film dan mendapat apresiasi khalayak luas. Beberapa karya sastra bahkan telah diadaptasi lebih dari satu kali dalam berbagai versi, baik dari aspek struktur, genre dan budaya. Adaptasi terus mengalami perkembangan signifikan baik dari segi kuantitas dan kualitas. Bahkan tidak jarang film-film adaptasi mampu meraih berbagai prestasi di ajang bergengsi.
Pemunculan film-film yang diangkat dari karya sastra belakangan semakin marak dilakukakan. Para pembaca karya sastra kini tak harus bersusah payah untuk menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk membaca sebuah karya sastra seperti novel. Para sineas atau para ahli perfilm Indonesia dengan kemampuan dan kreativitasnya telah dapat mengembangkan dan memperkaya khasanah sastra Indonesia dengan cara menyajikan sebuah karya sastra dalam bentuk bacaan, dalam hal ini novel menjadi sebuah film yang dikemas apik dan menarik bagi semua kalangan. Melalui makalah ini penulis berusaha memberikan gambaran tentang adaptasi karya sastra (dalam hal ini novel) ke bentuk film, serta perubahan-perubahan yang terjadi dalam proses adaptasi tersebut.

B.  Pengertian, Hakikat dan Karateristik Fiksi (Novel) dan Film
Kata fiksi berasal dari fiction yang berarti: rekaan, khayalan, tidak berdasarkan kenyataan, atau dapat juga berarti suatu pernyataan yang hanya berdasarkan khyalan atau pikiran semata (Muhardi dan Hasanuddin WS, 1992:1). Salah satu bentuk karya fiksi adalah novel. Menurut Muhardi dan Hasanuddin WS (1992:6) novel adalah sebuah cerita yang memuat beberapa kesatuan persoalan disertai dengan faktor penyebab dan akibatnya. Persoalan kehidupan yang diangkat seperti kesedihan, kegembiraan, pengkhianatan, kejujuran dan permasalahan kemanusiaan lainnya yang disajikan pengarang, tokoh yang bergerak dari satu peristiwa ke peristiwa berikutnya.
Sementara itu, film merupakan gabungan dari berbagai ragam kesenian: musik, seni rupa, drama, serta ditambah dengan unsur fotografi (Eneste, 1991:18). Sedangkan Ardianto (2007:143), mengatakan bahwa film adalah bentuk dominan dari komunikasi massa visual di belahan dunia ini. Secara umum dapat kita pahami, film merupakan hasil kreativitas seni yang menyampaikan serangkaian peristiwa atau cerita dalam bentuk visual dan ditambah unsur-unsur lain seperti musik, seni rupa, drama dan lain-lain.
Meski novel dan film adalah dua genre seni yang berbeda, namun keduanya ada memiliki persamaan. Unsur-unsur seperti plot, karakter, latar, dan sudut pandang digunakan dalalam kedua genre seni ini. Hanya saja, karena kelebihan yang dimiliki film, membuat masyarakat lebih cenderung menikmati film dari pada membaca karya sastra seperti novel. Mereka bisa menyaksikan film dengan berbagai unsur yang secara teknologi mampu memikat mereka hanya dengan duduk santai tanpa harus sibuk membaca teks. Unsur-unsur seperti gambar bergerak, suara, dan musik mampu mengantarkan para penikmat film memasuki dunia yang bisa mereka saksikan dan dengarkan. Berbeda dengan cerita fiksi yang dalam proses interpretasinya bergantung sekali dengan membaca. Lebih jauh penggambaran peristiwa dan tokoh secara tertulis, membuat pembaca karya sastra hanya bisa memasuki alam imajinasi.
Berkaitan dengan hal tersebut Damono (2005:99) menjelaskan bahwa perbedaan mendasar antara karya fiksi dan film adalah dalam hal pengembangan imajinasi pembaca dan penonton. Damono mencontohkan cerita Sitti Nurbaya. Ketika kita membaca kisah tersebut, bayangan mengenai kecantikan Siti Nurbaya tentunya sesuai dengan bayangan yang ada dalam pikiran kita masing-masing. Ketika diangkat ke layar putih, sutradara harus menentukan siapa yang akan memerankan gadis yang mahaelok itu. Dan ketika pilihan sudah dijatuhkan dan film itu disaksikan, bisa saja masing-masing kita menjadi kecewa karena ternyata bintang film yang memerankannya jauh dari bayangan kita mengenai Sitti Nurbaya.

C.  Filmisasi Fiksi
Filmisasi adalah proses transformasi atau perubahan bentuk dari karya sastra ke film. Selain filmisasi, yang menyatakan proses transformasi sastra kebentuk film dikenal juga dengan istilah ekranisasi (Suseno, 2011). Nella (2012) memberikan pernyataan yang sama dengan Suseno bahwa secara sederhana, ekranisasi dapat diartikan sebagai proses transformasi dari bentuk novel ke dalam bentuk film. Selanjutnya Eneste (1991:60) menjelaskan bahwa istilah ekranisasi berasal dari bahasa Prancis “ecran” yang berarti layar. Secara lengkap Eneste menyatakan bahwa ekranisasi adalah suatu proses pelayar putihan, pemindahan atau pengangkatan sebuah novel ke dalam film.  Pemindahan dari novel ke layar putih tersebut dapat menimbulkan berbagai perubahan. Perubahan tersebut dapat berupa penciutan, penambahan (perluasan), dan perubahan dengan sejumlah variasi.
Sapardi Djoko Damono (2005:96) memiliki istilah alih wahana untuk membicarakan transformasi dari satu jenis kesenian ke jenis kesenian yang lain. Istilah ini hakikatnya memiliki cakupan yang lebih luas dari ekranisasi. Ekranisasi merupakan perubahan ke atau menuju layar putih, sedangkan alih wahana seperti yang dijelaskan Sapardi bisa dari berbagai jenis karya seni ke jenis karya seni lain. Akan tetapi, istilah ini tidak bertentangan dengan makna dan konsep dasar yang dimiliki oleh ekranisasi sebagai proses pengubahan dari satu wahana ke wahan lain. Sapardi Djoko Damono menjelaskan bahwa alih wahana adalah perubahan dari satu jenis kesenian ke dalam jenis kesenian lain. Alih wahana yang dimaksudkan di sini tentu saja berbeda dengan terjemahan. Terjemahan dan penerjemahan adalah pengalihan karya sastra dari satu bahasa ke bahasa yang lain, sedang alih wahana adalah pengubahan karya sastra atau kesenian menjadi jenis kesenian lain. Sapardi Djoko Damono mencontohkan cerita rekaan diubah menjadi tari, drama, atau film. Bukan hanya itu, alih wahana juga bisa terjadi dari film menjadi novel, atau bahkan puisi yang lahir dari lukisan atau lagu dan sebaliknya. Alih wahana novel ke film misalnya, tokoh, latar, alur, dialog, dan lain-lain harus diubah sedemikian rupa sehingga sesuai dengan keperluan jenis kesenian lain.
Perbedaan-perbedaan yang terjadi antara film dan novel yang diadaptasikan,  menurut Eneste (1991:61—65), terletak pada proses kreatif yang dilakukan oleh sutradara dengan cara mengadakan penambahan, pengurangan, dan pemunculan variasi-variasi alur cerita. Bermacam-macam penambahan, pengurangan dan pemberian variasi-variasi tersebut adalah sebagai akibat medium yang berbeda antara film hasil transformasi dengan novel yang diadaptasi, sehingga mengakibatkan pula terjadinya perubahan fungsi khususnya dalam alur cerita.
Suseno (2011) menyatakan ada beberapa aspek yang dipertimbangkan di dalam ekranisasi karya sastra ke dalam bentuk film. Salah satunya adalah aspek durasi penikmatan atau pembacaan. Waktu yang dibutuhkan untuk menikmati atau membaca karya sastra tentu saja berbeda dengan waktu yang dibutuhkan untuk menikmati atau menonton film. Waktu untuk membaca karya sastra lebih longgar, lebih luas. Sedangkan film, waktu penikmatannya cenderung lebih terbatas. Keadaan tersebut tentu menjadi faktor yang penting untuk dipertimbangkan dalam transformasi karya sastra menjadi film.
Menurut Eneste (1991:61-64) salah satu langkah yang ditempuh dalam proses transformasi sastra ke film adalah penciutan. Penciutan adalah pengurangan atau pemotongan unsur cerita dalam sastra, dalam proses transformasi. Penciutan dapat dilakukan terhadap unsur sastra seperti cerita, alur, tokoh, latar, maupun suasana. Dengan adanya proses penciutan atau pemotongan maka tidak semua hal yang diungkapkan dalam novel akan dijumpai pula dalam film. Dengan demikian berarti akan terjadi pemotongan-pemotongan atau penghilangan bagian di dalam karya sastra dalam proses transformasi ke film. Menurut Wildan (2012) untuk melayar putihkan novel kita tidak mungkin semua hal yang terjadi dalam novel diceritakan dalam film, maka dari itu terjadi pemotongan kejadian-kejadian. Sutradara pastinya sudah menangkap hal-hal yang penting dalam novel yang akan difilmkan.
Selanjutnya Eneste (1991: 64-65) menjelaskan bahwa kemungkinan lain yang dapat terjadi dalam proses transformasi sastra ke bentuk film adalah penambahan (perluasan). Seperti halnya dalam kreasi penciutan, dalam proses ini juga biasa terjadi pada ranah cerita, alur, penokohan, latar, maupun suasana. Penambahan yang dilakukan dalam proses ekranisasi ini tentu memiliki alasan, baik alasan pentingnya penambahan, alasan relevansinya dengan cerita secara keseluruhan, ataupun karena alasan lain. Eneste (1991:64) menyatakan bahwa seorang sutradara mempunyai alasan tertentu melakukan penambahan dalam filmnya karena penambahan itu penting dari sudut filmis.
Selain penciutan dan penambahan, ekranisasi memungkinkan terjadinya perubahan variasi-variasi tertentu antara novel dan film. Variasi di sini biasa terjadi dalam ranah ide cerita, gaya penceritaan, dan lain-lain. Terjadinya variasi dalam transformasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain media yang digunakan, persoalan penonton, durasi waktu pemutaran. Dalam mengekranisasi, pembuat film merasa perlu membuat variasi-variasi dalam film, sehingga terkesan film yang didasarkan atas novel itu tidak seasli novelnya (Eneste, 1991:65-67).
Ekranisasi dari novel ke film biasanya dikarenakan novel tersebut sudah terkenal sehingga masyarakat pada umumnya sudah tidak asing lagi terhadap cerita tersebut yang pada akhirnya mendukung aspek komersial. Selain itu, ada juga yang menitikberatkan pada ide cerita yang dianggap bagus. Sementara untuk penulis skenario, proses adaptasi cukup membantu dalam menggagas sebuah cerita yang akan disajikan dalam film. Di Indonesia sendiri pun banyak sekali film yang lahir dari karya sastra seperti, novel yang berjudul Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy yang difilmkan dengan judul yang sama oleh Hanung Bramantyo pada tahun 2007, novel Di Bawah Lindungan Ka’bah karangan Hamka, novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata, novel Habibie dan Ainun karya BJ Habibie, novel Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye, Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi, dan banyak lagi film-film laris dari sutradara terkenal Indonesia yang juga merupakan adaptasi dari novel. Berikut analisis salah satu contoh novel yang di adaptasi ke film, yakni novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy.

D.  Analisis Novel
a.        Ayat-Ayat Cinta (AAC ke Film)
1.    Sinopsis
Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al-Azhar. Berteman dengan panas dan debu Mesir. Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Belajar di Mesir membuat Fahri dapat mengenal Maria, Nurul, Noura, dan Aisha.
Maria adalah tetangga satu flat Fahri, yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al-Qur’an dan mengagumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta. Sayangnya, cinta Maria hanya tercurah dalam diary saja. Sementara Nurul adalah anak seorang kyai terkenal, yang juga mengeruk ilmu di Al-Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang, rasa mindernya yang hanya keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apa pun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak.
Noura adalah tetangga Fahri, yang selalu disiksa Ayahnya sendiri. Fahri berempati penuh dengan Noura dan ingin menolongnya. Hanya empati saja, tidak lebih. Namun Noura mengharapkan yang lebih, dan nantinya ini menjadi masalah besar ketika Noura menuduh Fahri memperkosanya.
Dan yang terakhir adalah Aisah. Si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku, Aisha jatuh cinta pada Fahri, dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya. Fahri kenalan dengan Aisha di dalam metro. Fahri sedang dalam perjalanan menuju Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara kota Cairo, untuk talaqqi (belajar secara face to face pada seorang syaikh) pada Syaikh Utsman, seorang Syaikh yang cukup tersohor di Mesir.
Dengan menaiki metro, Fahri berharap ia akan sampai tepat waktu di Masjid Abu Bakar As-Shiddiq. Di metro itulah ia bertemu dengan Aisha. Aisha yang saat itu dicacimaki dan diumpat oleh orang-orang Mesir karena memberikan tempat duduknya pada seorang nenek berkewarganegaraan Amerika, ditolong oleh Fahri. Pertolongan tulus Fahri memberikan kesan yang berarti pada Aisha. Mereka pun berkenalan. Terrnyata Aisha bukanlah gadis Mesir, melainkan gadis Jerman yang juga tengah menuntun ilmu di Mesir.
Di Mesir Fahri tinggal bersama dengan keempat orang temannya yang juga berasal dari Indonesia. Mereka adalah Siful, Rudi, Hamdi, dan Misbah. Mereka tinggal di sebuah apartemen sederhana yang mempunyai dua lantai, di mana lantai dasar menjadi tempat tinggal Fahri dan empat temannya, sedangakan yang lantai atas ditempati oleh keluarga Kristen yang sekaligus menjadi tetangga mereka. Keluarga ini terdiri dari Tuan Boutros, Madame Nahed dan dua orang anak mereka, yaitu Maria dan Yousef.
Walau keyakinan dan aqiqah mereka berbeda, tapi antara keluarga Fahri dan Tuan Boutros terjalin hubungan yang sangat baik. Terlebih Fahri dan Maria berteman begitu akrab. Fahri menyebut Maria sebagai gadis kristen yang aneh. Bagaimana tidak, Maria mampu menghafal surat Al-Maidah dan surat Maryam.
Selain bertetangga dengan keluarga Tuan Boutros, Fahri juga mempunyai tetangga lain berkulit hitam yang perangainya berbanding 180 derajat dengan keluarga Boutros. Kepala keluarga ini bernama Bahadur. Istrinya bernama Madame Syaima dan anak-anaknya bernama Mona, Suzanna, dan Noura. Bahadur, Madame Syaima, Mona, dan Suzanna sering menyiksa Noura karena rupa serta warna rambut Noura yang berbeda dengan mereka. Noura berkulit putih dan berambut pirang.

Suatu malam, Noura diusir Bahadur dari rumah. Noura diseret ke jalam sambil dicambuk. Tangisannya memilukan, Fahri tidak tega melihat Noura diperlakukan demikian oleh Bahadur. Ia meminta Maria melalui sms untuk menolong Noura. Fahri tidak bisa menolong Noura secara langsung, karena Noura bukan muhrimnya. Maria pun bersedia menolong Noura malam itu. Ia membawa Noura ke flatnya. Fahri dan Maria berusaha mencari tahu siapa keluarga Noura sebenarnya. Mereka yakin Noura bukanlah anak Bahadur dan Madame Syaima. Dan benar, Noura bukanlah anak mereka. Noura yang malang itu akhirnya bisa berkumpul bersama orang-orang yang menyayanginya. Ia sangat berterima kasih pada Fahri dan Maria.
Sementara itu, Aisha tidak dapat melupakan pemuda yang baik hati mau menolongnya di metro saat itu. Aisha rupanya jatuh hati pada Fahri. Ia meminta pamannya Eqbal untuk menjodohkannya dengan Fahri. Kebetulan, paman Eqbal mengenal Fahri dan Syaik Utsman. Melalui bantuan Syaik Utsman, Fahri pun bersedia untuk menikah dengan Aisha.
Mendengar kabar pernikahan Fahri, Nurul menjadi sangat kecewa. Paman dan bibinya sempat datang ke rumah Fahri untuk memberitahu bahwa keponakannya sangat mencintai Fahri. Namun terlambat, Fahri akan segera menikah dengan Aisha. Malang benar nasib Nurul.
Pernikahan Fahri dengan Aisha pun berlangsung. Fahri dan Aisha memutuskan untuk berbulanmadu di sebuah apartemen cantik selama beberapa minggu.  Sepulang dari bulanmadunya, Fahri mendapat kejutan dari Maria dan Yousef.  Maria dan adiknya itu datang ke rumah Fahri untuk memberikan sebuah kado pernikahan. Namun Maria tampak lebih kurus dan murung. Memang, saat Fahri dan Aisha menikah, keluarga Boutros sedang pergi berlibur. Alhasil, begitu mendengar Fahri telah menjadi milik wanita lain dan tidak lagi tinggal di flat, Maria sangan terpukul.
Kebahagiaan Fahri dan Aisha tidak bertahan lama, karena Fahri harus menjalani hukuman di penjara atas tuduhan pemerkosaan terhadap Noura. Noura teramat terluka saat Fahri memutuskan untuk menikah dengan Aisha. Di persidangan, Noura yang tengah hamil itu memberikan kesaksian bahwa janin yang dikandungannya adalah anak Fahri. Pengacara Fahri tidak dapat berbuat apa-apa, karena ia belum memiliki bukti yang kuat untuk membebaskan kliennya dari segala tuduhan. Fahri pun harus mendekam di bui selama beberapa minggu.
Satu-satunya saksi kunci yang dapat meloloskan Fahri dari fitnah kejam Noura adalah Maria. Maria lah yang bersama Noura malam itu (malam yang Noura sebut dalam persidangan sebagai malam di mana Fahri memperkosanya). Tapi, Maria sedang terluka lemah tak berdaya. Luka hati karena cinta yang bertepuk sebelah tangan membuatnya jatuh sakit. Tidak ada jalan lain, atas desakan Aisha, Fahri pun menikahi Maria. Aisha berharap, dengan mendengar suara dan merasakan sentuhan tangan Fahri, Maria tersadar dari koma panjangnya. Dan harapan Aisha menjadi kenyataan. Maria dapat membuka matanya dan kemudian bersedia untuk memberikan kesaksian di persidangan. Alhasil, Fahri pun terbebas dari tuduhan Noura. Dengan kata lain, Fahri dapat meninggalkan penjara yang mengerikan itu. Noura menyesal atas perbuatan yang dilakukannya. Dengan jiwa besar, Fahri memaafkan Noura. Dan terungkaplah bahwa ayah dari bayi dalam kandungan Noura adalah Bahadur.
Fahri, Aisha, dan Maria mampu menjalani rumah tangga mereka dengan baik. Aisha menganggap Maria sebagai adiknya, demikian pula Maria yang menghormati Aisha selayaknya seorang kakak. Tidak ada yang menduga jika maut akhirnya merenggut Maria. Namun Maria beruntung karena sebelum ajal menjemputnya, ia telah menjadi seorang mu’alaf.








2.    Pembahasan
a.    Pengurangan
1)   Pengurangan Peristiwa
Salah satu kutipan peristiwa novel yang tidak ada dalam film, yaitu peristiwa Fahri jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit.
“Dalam keremangan gelap aku melihat ada cahaya. Perlahan aku membuka mata. Aku melihat langit-langit berwarna putih. Bukan langit-langit kamarku. Langit-langit kamarku biru muda. Kepalaku masih berat.
“Alhamdulillah. Kau sudah tersadar Mas”, suara Saiful serak. Aku memandang wajahnya.
“A..aku di…di mana?” lidahku terasa kelu sekali.
“Di rumah sakit Mas”, Lirih Saiful.
“Kenapa?”
“Sudahlah Mas Istirahat dulu. Jangan memikirkan apa-apa dulu”, kepalaku terasa nyeri kembali. Aku berusaha berpikir, mengingat-ingat apa yang terjadi padaku sehingga ada di rumah sakit ini. Perjalanan melelahkan, kepanasan dengan perut kosong. Membuka pintu dengan kepala sakit luar biasaa seperti dihantam palu godam. Lalu gelap”. (El Shirazy, 2005:174)

2)   Pengurangan Tokoh
Tuan Boutros merupakan tokoh yang tidak ditampilkan oleh sutradara. Di dalam ekranisasi, film hanya menampilkan tokoh-tokoh yang dianggap penting saja. Berikut ini kutipan yang menerangkan adanya tokoh Tuan Boutros.
“Sampai di kamar sudah ada Maria dan keluarganya. Maria menatapku dengan wajah sedih, juga Yousef, Tuan Bouttros dan Madame Nahed. Mereka tahu kalau pagi ini aku akan dioperasi maka mereka dating untuk melihatku sebelum masuk ke ruang operasi”. (El Shirazy, 2005:189).


3)        Pengurangan Latar
Latar tempat novel yang tidak ditampilkan di dalam film antara lain adalah Cleopatra Restaurant, Attaba, dan Hotel DSan Stefano, Alexandria. Berikut ini kutipan dari latar tempat dalam nolel yang tidak ditampilkan dalam film.
“Akhirnya Tuan Butros memarkir mobilnya di halaman sebuah restaurant mewah. Cleopatra Restaurant. Terletak di pinggir sungai Nil”. (El Shirazy,2005:127)
Dua hari menjelang keberangkatan ke Alexandria kami belanja ke Attaba”. Pasar rakyat paling besar di Mesir”. (El Shirazy, 2005:281)

b.   Penambahan
1)   Penambahan Peristiwa
Peristiwa merupakan kegiatan dari seorang tokoh atau sekelompok tokoh pada suatu tempat dan pada waktu tertentu. Novel dan film AAC mempunyai banyak sekali peristiwa. Salah satu peristiwa film yang tidak ada dalam novel adalah ketika Aisha mencari surat cinta dari Noura di rumah Syaikh Ustman.

2)   Penambahan Tokoh
Tokoh merupakan pelaku dalam cerita. Tokoh utama dari novel AAC adalah Fahri, dan terdapat beberapa orang tokoh tambahan. Ketika sebuah novel di angkat menjadi sebuah film, maka kemungkinan akan terjadi penambahan beberapa orang tokoh. Namun, hal tersebut tidak terjadi dengan ekranisasi novel AAC. Di dalam film AAC yang disutradarai Hanung Bramantyo ini tidak ada penambahan tokoh.

3)   Penambahan Latar
Secara umum pengarang menuliskan latar tempat yang terdapat di dalam novel AAC adalah di mesir. Sutradara film AAC menambahakan salah satu latar yang ditambahkan oleh sutradara dalam film AAC yaitu rumah Ustad Jalai.


c.    Perubahan Bervariasi
1)   Variasi-variasi Peristiwa.
Variasi-variasi peristiwa dalam novel yang dilakukan sutradara ke dalam film berjumlah delapan buah peristiwa. Peristiwa-peristiwa tersebut adalah sebagai berikut.

a)    Di dalam film Maria menitip CD kepada Fahri, sementara di dalam novel dia menitip disket kepada Fahri (el shirazi, 2005: 21-22).
b)   Di dalam film Fahri dan Asraf sudah lama kenal sehingga mereka menanyakan kabar masing-masing dan membicarakan masalah bola. Namun, di dalam novel dijelaskan bahwa Fahri dan Asraf berkenalan dahulu, baru kemudian mereka membincangkan masalah bola. (El shirazi 2005: 34-36)
c)    Di dalam film Fahri mengetahui kisah penderitaan Noura langsung dari Noura sendiri. Sementara di dalam novel, Fahri mengetahui kisah penderitaan Noura dari surat yang diberikan oleh Nurul kepadanya. (El Shirazi, 2005:133-136)
d)   Di dalam novel Bahadur mencari Noura dipasar , tetapi di dalam novel disebutkan bahwa Bahadur encari Noura melalui tayangan orang hilang di televise. (El Shirazi, 2005:198-199)
e)    Di dalam film Fahri mencurahkan kegelisahan pada saat ditawarka taaruf oleh Shaikh Ustman kepada Saiful. Sementara didalam novel di sebutkan, Fahri gelisah pada saat ditawarkan taaruf oleh Syaikh Ustman, sehingga dia bolah-balik menemui Syaikh Ustman. (El Shirazi, 2005:203-207)
f)    Di dalam film Maria meninggal dunia ketika meminta di ajari shalat kepada Fahri. Maria telah masuk islam pada waktu dia sadar dari komanya setelah menikah dengan Fahri di rumah sakit. Sementara di dalam novel disebutkan, Maria meninggal setelah dia meminta berwudhu kepada Fahri dan Aisa. Kemudian dia mengucapkan dua kalimat Syahadat. Tidak lama kemudian dia meninggal dunia dalam keadaan islam. Berikut ini kutipan dari novel.
“Bantulah aku berwudhu. Aku masih mencium bau surga. Wanginya merasuk ke dalam sukma. Aku ingin masuk ke dalamnya. Di sana aku berjanji akan mempersiapkan segalanya dan menunggumu untuk bercinta. Memadu kasih dalam cahaya kesucian dan kerelaan Tuhan selama-lamanya. Suamiku, bantu aku berwudhu sekarang juga!”
Aku menuruti keinginan Maria. Dengan sekuat tenaga aku membopong Maria yang kurus kering ke kamar mandi. Aisha membantu membawakan tiang infus. Dengan tetap kubopong, Maria diwudhui oleh Aisha. Setelah selesai, Maria kembali kubaringkan di atas kasur seperti semula. Dia menatapku dengan sorot mata bercahaya. Bibirnya tersenyum lebih indah dari biasahnya. Lalu dengansuara lirih yang keluar dari relung jiwa ia berkata:
Asyhadu an laa ilaaha illallah
wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh!
Ia tetap tersenyum. Menatapku tiada berkedip. Perlahan pandangan matanya meredup. Tak lama kemudian kedua matanya yang bening itu tertutup rapat. Kuperiksa nafasnya telah tiada. Nadinya tiada lagi denyutnya. Dan jantungnya telah berhenti berdetak. Aku tak kuasa menahan derasnya lelehan air mata. Aisha juga.
Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun! (El Shirazi, 2005:393-403)

2)   Variasi-variasi Tokoh
Variasi-variasi tokoh dalam novel yang dilakukan sutradara ke film terdapat dalam lima buah peristiwa. Peristiwa-peristiwa tersebut sebagai berikut.
a)    Di dalam film Noura yang memberikan langsung surat cinta kepada Fahri. Sementara di dalam novel disebutkan, Syaikh Ahmad yang memberikan surat cinta Noura kepada Fahri. Berikut ini kutipan dari novel.

Ketika aku mengambil naskah yang dikoreksi Syaikh Ahmad, beliau bercerita sedikit tentang Noura. Gadis innocent itu senang di Tafahna. Kebetulan satu hari sebelumnya, Ummu Aiman, isteri Syaikh Ahmad menjenguk ke sana. Syaikh Ahmad sedang melacak sebenarnya siapa Si Muka Dingin Bahadur itu. Apakah benar ayahnya atau bukan? Syaikh Ahmad mendapatkan informasi Noura dilahirkan di klinik bersalin Heliopolis. Bagaimana sejarahnya Noura bisa terlahir di klinik elite di kawasan elite itu? Syaikh Ahmad sedang menyelidikinya dengan bantuan Ridha Shahata, sepupunya yang menjadi staf intelijen Dewan Keamanan Negara atau yang disebut “Mabahits Amn Daulah”. Aku yakin tak lama lagi Noura kembali hidupnya yang penuh ketenteraman. Sebelum aku pulang beliau menyerahkan sepucuk surat kepadaku, beliau bilang, “Surat ini yang membawa Ummu Aiman, dari Noura, katanya ucapan terima kasih padamu!” (El Shirazi, 2005:162)

b)   Di dalam film Fahri memberikan surat cinta Noura kepada Syaikh Ustman. Sementara di dalam novel disebutkan, Fahri memberikan surat cinta Noura kepada Syaikh Ahmad. (El Shirazi, 2005:163-169)
c)    Di dalam film Aisha yang meminta Fahri untuk merekam suaranya untuk Maria. Sementara didalam novel disebutkan bahwa Madane Nahed dan Yousef yang meminta Fahri untuk merekam suaranya untuki Maria. (El Shirazi, 2005:340-343)
d)   Di dalam film pengacara Fahri yang meminta izin keluar Fahri dari penjara untuk ke rumah sakit tempat Maria dirawat. Sementara di dalam novel disebutkan, Tuan Boutros dan Madane Nahed yang meminta izin keluar Fahri dari penjara ke rumah sakit tempat Maria dirawat. (El Shirazi, 2005:365-367)
e)    Di dalam film Aisha yang memberikan diary Maria kepada Fahri. Sementara di dalam novel disebutkan, Tuan Butros yang memberikan diary Maria kepada Fahri. (El Shirazi, 2005:368-376)

3)   Variasi-variasi Latar
Variasi-variasi latar tempat dan waktu dalam novel yang dilakukan sutradara ke dalam film terdapat dalam enam peristiwa. Peristiwa-peristiwa tersebut sebagai berikut.
a)    Di dalam film perkenalan Fahri dengan Aisha dan Alicia di pasar. Sementara di dalam novel disebutkan Fahri berkenalan dengan Aisha dan Alicia di dalam metro. Berikut ini kutipan dari novel.
Sind Sie Herr Fahri?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Ia bertanya seperti itu. Berarti ia benar-benar mendengarkan dengan baik pendebatanku dengan tiga orang Mesir tadi sehingga tahu namaku. Atau dia mendengarkan aku berkenalan dengan Alicia.
Ja. Mein name ist Fahri.” Jawabku.
Mein name ist Aisha,” sahutnya sambil menyerahkan kartu nama. Ia lalu menyodorkan buku notes kecil dan pulpen.
Bitte, schreiben Sie ihren namen!” katanya.
Kuterima buku notes kecil dan pulpen itu. Aku paham maksud Aisha, tentu tidak sekadar nama tapi dilengkapi dengan alamat atau nomor telpon. Masinis metro membunyikan tanda alarm bahwa sebentar lagi pintu metro akan ditutup dan metro akan meneruskan perjalanan. Aku hanya menuliskan nama dan nomor handphone-ku. (El shirazi 2005: 54-56)

b)   Di dalam film perkenalan Aisha dengan Nurul terjadi setelah Fahri dengan Aisha menikah. Sementara di dalam novel disebutkan, Aisha berkenalan dengan Nurul sebelum dia menikah dengan Fahri. (El Shirazi, 2005:104-108)
c)    Di dalam film Fahri membaca surat cinta Noura di jalan. Sementara di dalam novel disebutkan, Fahri membaca surat cinta Noura di dalam kamarnya. (El Shirazi, 2005:171-172)
d)   Di dalam film Maria makan malam dengan Fahri dan Aisha di sebuah restoran. Sementara di dalam novel disebutkan, Maria makan malam dengan Aisha dan Fahri di rumah Aisha. (El Shirazi, 2005:284-285)

b.        Novel Negeri 5 Menara
1.    Sinopsis
Diceritakan dalam novel tersebut, perjuangan seorang anak yang bernama Alif Fikri, lahir di ranah minang tepatnya di desa Bayur daerah Danau Maninjau. Berasal dari negeri yang sama dengan buya Hamka. Alif menamatkan sekolah dasar dan Tsanawiyah (setingkat SMP) di Maninjau. Setamat Tsanawiyah Alif Fikri mempunyai harapan besar untuk menyambung sekolah ke SMA Bukittinggi. Ia bercita-cita ingin menjadi seperti Habibie. Namun keinginan kedua orang tuanya berbeda dengan harapan dan cita-cita Alif. Ibunya menginginkan agar Alif melanjutkan ke jalur pendidikan agama Islam, Madrasah Aliyah (MA) dan menjadi seorang ahli agama suatu saat nanti. Kondisi tersebut membuat Alif dilanda kekalutan dan kebimbangan, antara berbakti pada orang tua dengan mengikuti keinginan ibunya, yaitu melanjutkan bersekolah ke Madrasah Aliyah ataukah melanjutkan mimpinya untuk sekolah di SMA umum. Hingga akhirnya, melalui saran Pak Etek Gindo salah seorang kerabat, Alif dengan berat hati memenuhi permintaan orangtuanya untuk menempuh jalur pendidikan agama Islam tetapi dengan suatu syarat. Alif tidak mau masuk Madrasah Aliyah (MA) di Minang, tetapi ia memilih mendalami ilmu agama ke Pondok Madani (PM), sebuah pesantren di Jawa Timur.
Berangkatlah Alif ke pulau Jawa, perjalanan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sesampainya di Pesantren Pondok Madani (PM) Alif disambut dengan spanduk besar yang berbunyi “ Ke Madani Apa yang Kau Cari”. Hatinya terkejut, “Ya, apa yang sebenarnya yang aku cari, hanya karena memberontak tidak boleh masuk SMA?, dan lebih penting lagi apakah aku bisa bertahan?” Alif merenungi segala keputusannya.
Perjalanan hidup Alif sebagai salah satu siswa pondok pesantren pun dimulai. Bersama lima sahabatnya, Raja Lubis dari medan, Said Jufri dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep,  Atang dari Bandung dan Baso Salahuddin dari Gowa, ia lalui suka dan duka selama di pesantren. Peraturan pesantren yang sangat ketat, jadwal kegiatan yang padat, kewajiban memakai bahasa Inggris dan Arab dalam setiap kegiatan komunikasi, serta hukuman yang siap menanti sekecil apapun kesalahan yang diperbuat, membuat Alif tidak tahan pada saat awal-awal bersekolah di pondok pesantren. Gelombang emosi Alif yang naik turun menghiasi hari-harinya pada saat menimba ilmu di pondok pesantren tersebut. Ragu dan menyesal sempat terbersit di benak Alif, apalagi ketika Alif menerima surat dari sahabat dekat yang sekaligus rivalnya ketika sekolah dulu, yaitu Randai, yang kini seolah sedang berjaya di sebuah SMA Favorit di Bukit Tinggi, sebuah SMA impian Alif.
Seiring berjalannya waktu, lambat laun Alif dan sahabat-sahabatnya dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan PM. Bersama, mereka saling menasehati, saling berbagi mimpi, dan saling membantu satu sama lain. Mereka sekolah, belajar dan berasrama dari kelas 1 sampai kelas 6. Kian hari mereka semakin akrab dan memiliki kegemaran yang sama yaitu duduk dibawah menara pondok madani. Dari kegemaran yang sama mereka menyebut diri mereka sebagai Sahibul Menara. Kehidupan PM yang ketat dalam menerapkan disiplin membuat mereka harus saling mendukung agar kerasan menyelesaikan 6 tahun sekolah.
Banyak hal yang Alif dan kawan-kawannya dapatkan dari PM, tidak hanya pelajaran “biasa”, tetapi juga pelajaran tentang kehidupan, yang ia bawa sebagai bekal di kehidupan selanjutnya. Tekanan hidup tidak membuat Alif dan para santri lainnya menjadi patah dan mengkerut, tetapi justru membuat mereka semakin kuat mental dan tahan banting. Hasilnya, mereka menjadi pribadi-pribadi muda yang tegar, optimistis, percaya diri, juga fasih berbahasa Arab dan Inggris.
[
2.    Pembahasan
a.    Pengurangan
Mengadaptasi sebuah novel yang terdiri dari 25 bab menjadi sebuah skenario film berdurasi 120 menit tidaklah mudah. Pasti ada beberapa bagian yang harus dihilangkan. Rekontruksi  cerita terkadang menjadi pilihan agar setiap adegan menjadi singkat dan berkaitan, namun tidak keluar dari ide utama. Namun pengurangan peristiwa yang tidak tepat terkadang membingungkan penonton dan membuat jalan cerita menjadi bias. Berikut beberapa contoh pengurangan peristiwa yang ada di dalam novel “Negeri 5 Menara “ yang tidak terdapat di dalam film.
Pertama, peristiwa yang terdapat dalam bab yang berjudul “Pesan dari Masa Silam”. Peristiwa ini merupakan kisah dimulainya cerita dalam novel negeri lima menara. Tokoh yang bernama Alif Fikri atau tokoh aku diawal cerita, dikisahkan berada di sebuah kantor di kota Washington DC. Seperti kutipan di bawah ini.
“Walau dingin menusuk tulang, hari ini aku lebih bersemangat dari biasa. Ini hari terakhirku masuk kantor sebelum terbang ke Eropa, untuk tugas dan sekaligus urusan pribadi. Tugas liputan ke London untuk wawancara dengan Tony Blair, perdana menteri Inggris, dan misi pribadiku menghadiri undangan The World Inter-Faith Forum. Bukan sebagai peliput, tetapi sebagai salah satu panelis. Sebagai wartawan asal Indonesia yang berkantor di AS, kenyang meliput isu muslim Amerika, termasuk serangan 11 September 2001” (Fuadi, 2011:3)

            Selain peristiwa di atas, bab yang terdapat dalam novel yang tidak diangkat ke dalam film seperti bab yang berjudul “Sang Renanaisance”, bab “Agen 007”, bab “Sarung dan Kurban”, bab “Thanks God It’s Friday”, bab Keajaiban Itu Datang Pagi-pagi”, dan masih ada bab lainnya. Banyak bagian-bagian penting dari novel yang membuat cerita menjadi menarik dan hidup tidak diangkat ke film. Sehingga lika-liku perjuangan alif dan kawan-kawan menempuh pendidikan di Pondok Madani tidak terlalu terdeskripsikan melalui film. Selain pengurangan peristiwa, terdapat juga pengurangan tokoh. Seperti tokoh Ustad Khalid dan istrinya, Ustad Khaidir, pak Yunus ayah Atang dan tokoh-tokoh lain yang mendukung cerita di dalam novel. Pengurangan peristiwa, secara langsung mengurangi latar yang terdapat dalam film. Misalnya latar yang tidak terdapat dalam film, namun ada di dalam novel, seperti toko koperasi tempat Alif membeli buku-buku, rumah Ustad Khalid, dapur Pondok Madani yang sering antri oleh para santri menunggu giliran, pasar, dan masih banyak latar yang tidak ditampilkan di film.

b.   Penambahan
Sebagai hasil dari sebuah kreatifitas, tidak menutup kemungkinan terjadinya penambahan-penambahan peristiwa, tokoh atau pun latar oleh penggarap film, dengan berbagai tujuan dan alasan. Ada beberapa penambahan peristiwa, tokoh, atau pun latar yang terdapat dalam film Negeri 5 Menara. Penambahan peristiwa itu diantaranya:
1.    Peristiwa Randai yang menemui Alif sebelum berangkat ke Jawa (menit ke 13: 30).
2.    Alif ikut ayahnya menjual kerbau di pasar ternak (menit 7:14)
3.    Alif dan Sahibul Menara memperbaiki generator listrik yang rusak di PM.
4.    Alif mengunjungi Randai di tempat kosnya di Bandung (1:19 menit)
5.    Dan sebagainya.
Selain penambahan peristiwa, terdapat juga penambahan tokoh. Seperti tokoh Annisa anak kiai Rais, istri kiai Rais, Ahmad, adik-adik Alif dan lain-lain.







c.    Perubahan
Perubahan yang terdapat dalam film Negeri 5 Menara dapat dilihat dari berbagai peristiwa, diantaranya:
1.    Di novel, yang menasehati Alif agar yakin untuk masuk sekolah agama adalah ibunya (amak) (halaman 6-9), sedangkan di film, yang menasehati Alif adalah ayahnya (menit 6:50).
2.    Di novel (halaman 40-41) perkenalan dengan ustad Salman tidak disertai dengan peristiwa ustad Salman memotong kayu dengan parang berkarat, seperti yang terdapat di film (menit 28:20).
3.    Di novel Alif bertemu Sarah di rumah ustad Khalid (halaman 254-256), sedangkan di film Alif bertemu Sarah di tempat latihan olah raga (jam 1:2).
4.    Di novel Alif mewawancarai ustad Khalid (halaman 254-256), sedangkan di film yang diwawancarai Alif adalah kiai Rais (jam 1:8).

Selain perubahan-perubahan di atas, masih banyak perubahan peristiwa yang lain. Terkadang perubahan yang terdapat di film mengurangi kekuatan cerita yang seharusnya mampu memberikan deskripsi seperti yang terdapat dalam novel. Alur cerita yang terdapat pada film Negeri Lima Menara banyak mengalami perubahan dari bentuk aslinya. Bahkan ada bagian-bagian peristiwa pada novel yang dipertukarkan alur ceritanya di film.

E.       Penutup

Adaptasi karya sastra ke layar lebar sudah sejak lama dilakukan. Tidak hanya di luar negri, di Indonesia pengadaptasian karya sastra, yang dikenal dengan ekranisasi ini, belakangan banyak dialakukan. Novel-novel karya penulis terkenal dijadikan sebagai sumber inspirasi dalam pembuatan film oleh sineas-sineas muda di Indonesia. Transformasi karya sastra ke layar lebar semakin membuat karya tersebut semakin terkenal. walaupun tidak seluruh karya sastra yang diangkat ke film mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Dalam ekarnisasi sering terjadi perubahan-perubahan dari karya fiksi ke film, namun perubahan tersebut tidak selalu merupakan kekurangan, bahkan menjadi suatu kelebihan. Adakalanya suatu karya fiksi, setelah diangkat ke layar lebar menjadi lebih terkenal dibandingkan ketika masih dalam bentuk novel atau fiksi, atau sebaliknya. Oleh karena itu, kita sebagai penikmat sastra hendaknya dapat memberikan apresiasi terhadap karya seni, khususnya karya fiksi. Karena dalam setiap kreativitas manusia tidak terhindar dari segala kekurangan atau pun kelebihannya.





















Daftar Rujukan

Amalina, Nella. 2012. Maraknya Fenomena Ekranisasi di Indonesia. (http://nellaamalina.blogspot.com/2012/11/maraknya-fenomena-ekranisasi-di.html). Diunduh 17 Februari 2013.
Ardianto, Elvinaro. 2007. Komunikasi Masa. Bandung: Refika Offset.

Damono, Sapardi Djoko. 2005. Pegangan Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Pusat Bahasa.

Eneste, Pamusuk. 1991. Novel dan Film. Jakarta: Nusa Indah

Fuadi, Ahmad. 2011. Negeri Lima Menara. Jakarta: PT Gramedia.
Muhardi dan Hasanuddin WS. 1992. Prosedur Analisis Fiksi. Padang: IKIP Padang Press.

Rohman, Wildan Taufiqur. 2012. Ekranisasi Novel dan Film di Bawah Lindungan Ka’bah. (http://jayustic.blogspot.com/2012/10/ekranisasi-novel-dan-film-di-bawah.html). Diunduh 17 Februari 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar