LAPORAN BACAAN
TUGAS 1
A.
PENDAHULUAN
- Judul buku : Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer
- Pengarang : Jujun S. Suriasumantri
- Penerbit : Pustaka Sinar Harapan
- Tahun terbit : 2007
- Cetakan : Cetakan Kedua puluh, Juli 2007
- Kota Penerbi : Jakarta
- Penerbit : Pustaka Sinar Harapan, Anggota IKAPI Jakarta
- Alamat penerbit : Jl. Dewi Sartika 136-D Cawang, Jakarta 13630, Telp. (021)
8015262: 8006981. Fax
(021) 8006982.
- E-mail : pshjkt@yahoo.com
- Tinggi buku : 20 cm
- Lebar buku : 14,5 cm
- Jumlah halaman : 382
- No ISBN: 978-416-899-8
B.
LAPORAN
BAGIAN BUKU
Pada bagian cover,
sampul buku berwarna biru tua atau donker. Pada bagian atas terdapat nama
pengarang yang ditulis dengan huruf kapital. Urutan kedua di bawah nama
pengarang terdapat judul buku yang ditulis dengan huruf kapital berdasarkan frase “FILSAFAT ILMU” dengan tinggi huruf
1 cm ditulis dengan warna putih, pada baris kedua ditulis dengan huruf capital
“SEBUAH PENGANTAR” dengan tinggi huruf 8 mm, pada baris ketiga “POPULER” dengan tinggi huruf
88 mm ditulis dengan warna putih, Terdapat sebuah gambar dengan
ukuran 6,5 x 5,5 cm, yaitu gambar gajah dengan warna putih berlatar abu-abu.
Di bawah gambar gajah terdapat nama penulis kata pengantar “ANDI HAKIM NASUTION” berwarna kuning, dan pada bagian kiri bawah terdapat
logo atau singkatan dari
penerbit dengan warna putih. Pada bagian belakang buku (Tulang buku), ditulis
judul buku warna putih dan pada bagian
cover lakang terdapat kata-kata dari penulis mengenai
isi dari buku filsafat ilmu yang ditulis dengan warna putih. Pada bagian tengah
bawah buku, terdapat nama kota dan lembaga penerbit.
Intisari buku
I
ILMU DAN FILSAFAT
Fokus
utama dari pembahasan buku adalah tema pokok yang hidup di sekitar masyarakat
keilmuan, supaya masyarakat keilmuan melibatkan diri kepada variasi-variasi
yang berkembang pada tema pokok tersebut. Pengkajian
dalam buku ini adalah untuk mengenal alur-alur berpikir dalam kegiatan keilmuan
dan mencoba menerapkannya kepada masalah-masalah praktis dalam kehidupan masyarakat. Jadi “filsafat untuk
filsafat” bukanlah prinsip yang mendasari analisis dalam buku ini. Untuk itu
maka asas-asas filsafat keilmuan dicoba diterapkan terhadap permasalahan yang
aktual dewasa ini seperti usaha peningkatan penalaran, permasalahan moral dalam
kegiatan keilmuan, kaitan ilmu dengan kebudayaan, perkembangan bahasa nasional,
penerapan asas-asas keilmuan dalam kegiatan penelitian dan pembahasan tentang
penulisan ilmiah.
Pada
bab I ini, menjelaskan bahwa pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu,
kepastian dimulai dari rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya.
Berfilsafat berarti berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita
ketahui dalam kesesmestaan yang seakan tidak terbatas. Demikian juga
berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang,
sebarapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau. Berdasrkan
paparan diatas dapat kita simpulkan bahwa filsafat itu lahir dari ilmu
pengetahuan, dengan adanya ilmu pengetahuan mengajak kita untuk mengoreksi
diri. Ilmu meruopakan pengetahuan yang kita gumuli sejak bangku sekolah dasar
sampai pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi. Berfilsafat berarti kita
berterus terang kepada diri sendiri. Seseorang berfilsafat dapat diumpamakan
seorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Dia ingin
mengetahui hakikat dirinya sendiri.
Buku
ini menjelaskan karakteristik berpikir secara filsafat yaitu
menyeluruh, mendasar dan spekulatif. Menyeluruh berarti seorang ilmuan tidak
puas mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Secara menyeluruh
ingin melihat dan mengetahui hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan lainnya.
Mendasar berarti, tidak mudah percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar. Seorang
ilmuwan akan mempertanyakan dasar dari sesuatu yang dia ketahui atau sesuatu
yang ingin diketahui.
Filsafat
merupakan penentu tempat berpijak bagi kegiatan keilmuwan. Filsafat menjadi
ilmu maka terdapat taraf peralihan. Taraf peralihan mengakibatkan bidang
penjelajahan filsafat menjadi lebih sempit (sektoral). Secara konseptual ilmu
masih mendasarkan kepada norma-norma filsafat. Metode yang dipakai yaitu
normatif dan deduktif, berdasarkan asas-asas moral yang filsafati. Ilmu menyatakan dirinya
otonom dari konsep filsafat
dan
mendasarkan sepenuhnya kepada hakikat alam sebagaimana adanya. Ilmu mendasarkan
kepada penemuan alamiah sebagaimana adanya.
Menurut
Auguste
Comte (1798-1857) tingkat perkembangan pengetahuan ; 1) tahap religius, asas
religilah yang dijadikan postulat ilmiah sehingga ilmu merupakan deduksi atau
penjabatan dari ajaran religi. 2) tahap
metafisik, keberadaan (wujud) yang menjadi objek penelahaan yang terbebas dari
dogma religi. 3) tahap
positif, asas-asas yang dipergunakan diuji secara positif dalam proses
verifikasi yang objektif.
Filsafat pada
dasaranya bersifat spekulatif. Filsafat menelaah segala masalah yang mungkin
dapat dipikirkan oleh manusia. Sesuai dengan fungsinya, filsafat
mempermasalahkan hal-hal pokok, terjawab masalah yang satu maka filsafat akan
mulai merambah masalah atau pertanyaan lain. Dalam contoh, seorang profesor
menjelaskan permasalahan yang dikaji filsafat melalui sajak.
What
is a man?
What
is?
What?
What is a man?
Maksudnya adalah filsafat mempersoalkan siapakah manusia. Tahap ini dapat
dihubungkan denga segenap pemikiran ahli-ahli filsafat sejak zaman Yunani Kuno
sampai sekarang yang rupa-rupanya tak kunjung selesai mempermasalahkan makhluk
yang satu ini. Kadang kurang disadari bahwa tiap ilmu, terutama ilmu-ilmu
sosial, mempunyai asumsi tertentu tentang manusia yang menjadi lakon utama
dalam kajian keilmuannya. What is?
Maksudnya adalah filsafat mempertanyakan tentang hidup dan eksistensi manusia. Apakah
hidup ini sebenarnya? apakah hidup itu sekadar peluang dengan nasib yang
melempar dadu acak?. What?
Tahap yang ketiga skenario bermula pada suatu pertemuan ilmiah, di mana seorang
ilmuwan berbicara mengenai suatu penemuan dalam risetnya. Setelah berjam-jam
dia berbicara dan bertanya kepada hadirin: apakah ada kiranya yang belum jelas?
Salah seorang bangkit dan sepertinya pekak, memasang kedua belah tangan di
samping kupingnya, apa? (rupanya sejak tadi dia tak mendengarkan apa-apa).
II
DASAR-DASAR PENGETAHUAN
Menurut
Wittgenstein
tugas utama filsafat bukanlah
menghasilkan susunan pertanyaan filsafati, melainkan menyatakan sebuah
pernyataan sejelas mungkin. Dengan demikian maka epistemologi dan bahasa
merupakan gumulan utama para filsuf dalam tahap ini. Permasalahan yang dikaji
filsafat mencakup tiga segi, apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah
(logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika), serta
apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika). Ketiga cabang
utama filsafat ini kemudian bertambah lagi yakni, pertama, teori tentang ada:
hakikat keberadaan zat, hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran
yang semuanya terangkun dalam metafisika; dan kedua, politik. kelima cabang utama
kemudian berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang
kajian lebih spesifik di antaranya filsafat ilmu. Cabang-cabang filsafat tersebut antara lain mencakup;
1) epistemology (filsafat pengetahuan) 2) etika (filsafat moral) 3) Estetika
(filsafat seni) 4) metafisaka 5) politik (filsafat pemerintahan) 6) filsafat agama 7) filsafat ilmu 8)
filsafat pendidikan 9) filsafat hokum 10) filsafat sejarah 11) filsafat
matematika.
Inti
sari pembahasan pada bab I buku ini adalah membedakan jenis pengetahuan yang
satu pengetahuan dengan pengetahuan yang lain. Apa yang dikaji oleh pengetahuan
tersebut, bagaimana membedakan pengetahuan tersebut, serta untuk apa
pengetahuan tersebut. Dengan mengetahui jawaban pertanyaan ini maka kita dapat
membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah manusia.
Kemampuan menalar manusia mampu
mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya. Secara
simbolik manusia memakan buah pengetahuan lewat Adam dan Hawa dan setelah itu
manusia harus hidup berbekal pengetahuan. Dengan mengetahaui mana yang benar
dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, dalam melakukan
pilihan ini manusia berpaling pada pengetahuan.
Perbedaan manusia dengan hewan lain
antaranya manusia mampu mengembangkan pengetahuan secara bersungguh-sungguh,
sementara hewan mempunyai pengetahuan, namun pengetahuan binatang ini terbatas
untuk kelansungan hidupnya. Kera tahu mana buah jambu yang enak, tikus tahu
mana kucing yang ganas, tikus ini tetntu diajari induknya untuk sampai pada
pengetahuan bahwa kucing itu berbahaya.
Faktor penyebab manusia mampu
mengembangkan pengetahuan; 1) manusia mempunyai bahasa yang mampu
mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatar belakangi informasi
tersebut. 2) kemampuan berfikir menurut suatu alur kerangka berfikir tertentu.
Secara garis besar cara berfikir seperti ini desebut penalaran. Binatang mampu
untuk berfikir namun binatang tidak mampu bernalar. Dua kelibihan ini yang
memungkinkan manusia mengembangkan pengetahuannya yakni bahasa yang bersifat
kominikatif dan fikiran yang mampu bernalar.
Manusia pada hakikatnya merupakan makluk
yang berfikir, merasa, bersikap dan bertindak. Sikap dan tindakan yang
bersumber pada pengetahuan yang didapatkan leawat kegiatan merasa atau
berfikir. Penalaran manusia menghasilkan pengetahaun yang dikaitkan dengan
kegiatan berfikir dan bukan dengan perasaan. Berfikir merupakan suatu kegiatan
untuk menemukan pengetahuan yang benar. Setiap jalan fikiran mempunyai apa yang
disebut sebagai kriterai kebenaran, dan kriterai kebenaran ini merupakan
landasan bagi proses penemuan kebenaran tersebut.
Sebagai suatu kegiatan berfikir maka penalaran mempunyai cirri-ciri tertentu.
Pertama, adanya suatu pola berfikir yang secara luas dapat disebut logika.
Kedua, sifat analitik dari proses berfikirnya. Kegiatan berfikir juga ada yang
tidak berdasarkan penalaran umpanya adalah intuisi, intuisi meruapakan suatu
kegiatan berfikir yang non analitik yang tidak berdasarkan diri kepada suatu
pola berfikir tertentu. Berfikir intuitif ini memegang peranan yang penting
dalam masyarakat yang berfikir non
analitik. Yang kemudian sering bergalau dengan perasaan.
Buku ini mengarahkan pada penalaran
ilmiah. Dalam mengembangkan kekuatan penalaran merupakan bagian dari usaha
untuk meningkatkan mutu ilmu dan teknologi. Penalaran ilmiah pada hakikatnya
merupakan gabungan dari penalaran deduktif dan induktif, dimana lebih lanjut
penalaran deduktif terkait dengan rasionalisme, dan penalaran induktif dengan
emperisme. Dalam mengkaji penalaran ilmiah kita terlebih dahulu harus menelaah dengan seksama penaran dekduktif dan penalaran
induktif tersebut.
Suatu penarikan kesimpulan diangap
sahih (valid) kalau proses penarikan kesimpulan itu dilakukan menurut cara
tertentu, cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, di mana logika secara
luas dapat didefenisikan sebagai pengkajian untuk berfikir secara sahih. Cara
penarikan kesimpulan yakni logika induktif dan logika deduktif. Logika erat
hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata
menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan di pihak lain, kita mempunyai
logika dedukti, yang membantu kita dalam menarik kesimpulan dari hasil yang
bersifat umum menjadi kasus yang bersifat individual (khusus)
Kesimpulan yang bersifat umum ini
penting artinya sebab mempunyai dua keuntungan. Keuntungan pertama, bahwa
pernyataan yang bersifat umum ini bersifat ekonomis. Keuntungan kedua adalah
dimungkinkan proses penalaran selanjutnya baik secara induktif maupun secara
deduktif. Penalaran deduktif adalah kegiatan berfikir yang sebaliknya dari
penalaran induktif. Deduktif adalah cara berfikir dimana dari pernyataan yang
bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan
secara deduktif biasanya mempergunakan pola berfikir yang dinamakan silogismus.
Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Penarikan
kesimpulan tergantung dari tiga hal yakni kebenaran premis mayor, kebenaran
primis minor dan keabsahan pengambilan kesimpulan. Ketiga unsur tersebut
persyatanya tidak terpenuhi maka kesimpulan yang ditarik akan salah. Contoh
kesimpualan yang dsusun secara deduktif adalah matematika.
` Dua cara manusia mendapatkan untuk
mendapatkan pengetahuan yang benar, pertama adalah mendasarkan diri pada rasio
dan yang kedua mendasarkan diri pada pengalaman. Kaum rasionalis mengembangkan
paham apa yang kita kenal dengan rasionalisme. Sedang yang mendasarkan diri
pada pengalaman mengembangkan paham yang desbut dengan emperisme. Kaum empiris
menganggap bahwa dunia fisik adalah nyata karena merupakan segala yang
ditangkap pancaindra. Hal ini membawa kita kedua masalah. Pertama, sikranya
kita mengetahui dua fakta yang nyata, masalah kedua adalah mengenai hakikat
pengalaman yang merupakan cara dalam menemukan pengetahuan dan pancaindera
sebagai alat yang menangkapnya.
Disamping rasionalisme dan empirisme
masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain. Yang penting untuk
dikatahui adalah intuisi dan wahyu, sampai sejauh ini, pengetahuan yang
didapatkan secara rasional maupun secara empiris, keduanya merupakan induk
produk dari sebuah rangkaian penalaran. Intusin bersfat personal dan tidak bias
diramalkan. Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur maka
intuisi ini tidak bisa diandalkan. Pengetahuan intuitif dan analitik bisa
bekerja saling membantu dalam menemukan kebenaran.
Teori kebenaran disebut teori
koherensi, secara sederhana dapat disimpulkan berdasarkan teori koherensi suatu
pernyataan diangap benar bila pernyataan itu bersifat koherena atau konsisten
dengan pernyatan-pernyataan sebelumnya yang diangap benar. Matematika ialah
bentuk pengetahuan yang penyusunannya dilakukan pembuktian berdasarkan teori
koheren. Paham lain adalah kebenaran yang berdasarkan kepada teori
korespondensi, dimana eksponen utamanya adalah Bertrand Russell (1872-1970)
bagi penganut teori korespondensi maka suatu pernyataan adalah benar jika
materi pengetahuan yang terkandung pernyataan itu berkorespondesnsi
(berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Kedua teori
kebenaran ini yakni teori koherensi dan teori
korespndensi kedua-duanya
dipergunakan dalam cara berfikir ilmiah.
Tafsiran yang paling pertama yang
diberikan oleh manusia terhadap alam adalah bahwa terhadap ujud-ujud yang
bersifat gaib (supernatural) dan ujud-ujud ini bersifat ini bersifat lebih
tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata. Sebagai lawan dari
sipernaturalisme maka terdapat paham naturalism yang menolak pendapat bahwa
terdapat ujud-ujud yang bersifat supernatural ini. Metarialisme, yang merupakan
paham berdasarkan naturalism ini, berpendapat bahwa gejala-gejala alam tidak
disebabkan oleh pengaruh kekuatan yang bersifat gaib, melainkan oleh kekuatan
yang terdapat dalam alam itu sendiri yang dapat dipelajari dan dengan demikian
dapat kita ketahui.
III
OMTOLOGI: HAKIKAT APA YANG DIKAJI
Dalam metafisikamaka penafsiran
dualistic membedakan antara zat dan kesadaran (pikiran) yang bagi mereka
berbeda sui generis secara
substansif. Filsuf yang menganut paham dualistic ini diantaranya adalah Rene
Deskartes (1596-1650), John Locke (1632-1714) dan Geoge Berkeley (1685-1753).
Ketiga ahli filsafat ini berpendapat bahwa apa yang ditangkap oleh pikiran,
termasuk pengindraan dari segenap pengalaman manusia adalah bersifat mental.
Locke sendiri menganggap bahwa
pikiran manusia pada mulanya dapat diibaratkan sebuah lempeng lilin yang licin (tabula
rasa) dimana pengalaman indera kemudian melekat pada lempeng tersebut makin
lama makin banyak pengalaman indera yang terkumpul dan kobinasi dari
pengalaman-pengalaman indera ini seterusnya membuahkan ide yang kian rumit.
Dengan demikian pikiran dapat diibaratkan sebagai organ yang menangkap dan
menyimpan pengalaman indera. Dalam hal ini aliran monistik mempunyai pendapat
yang tidak membedakan antara pikiran dan zat. Mereka hanya berbeda dalam gejala
disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai substansi yang sama. Untuk
meletakkan ilmu dalam perspektif filsafat kita harus bertanya pada diri sendiri
apakah yang sebenarnya yang ingin dipelajari ilmu. Apakah ilmu ingin
mempelajari hukum kejadian yang berlaku bagi seluruh manusia.
Dalam mengembangkan asumsi yang
harus diperhatikan adalah pertama, asumsi ini harus relevan dengan bidang dan
tujuan pengkajian disiplin keilmuan. Asumsi ini harus operasional dan merupakan
dasar dari pengkajian teoritis. Asumsi bahwa manusia dalam administrasi adalah
manusia administrasi. Asumsi manusia dalam administrasi yang bersifat
operasional adalah makluk ekonomis, makluk social, makluk aktualisasi diri atau
makluk yang kompleks.berdasarkan asumsi-asumsi ini maka dapat dikembangkan berbagai
model , strategi dan praktek administrasi. Kedua, asumsi ini harus disimpulkan
dari keadaan sebagaimana adanya bukan bagaimana keadaan yang seharusnya. Asumsi
yang pertama adalah asumsi yang mendasari telaahan ilmiah sedangkan asumsi yang
kedua adalah asumsi yang mendasari telaahan moral. Seorang ilmuan harus
benar-benar mengenal asumsi yang dpergunakan dalam analisis keilmuannya. Sebab
mempergunakan asumsi yang berbeda, maka berarti berbeda pula konsep pemikiran
yang dipergunakan. Asumsi y ang melandasi suatu kajian ke ilmuan tidak bersifat
tersurat melainkan tersirat.
Ilmu memulai penjelajahannya pada
pengalaman manusia dan berhenti dibatas pengalaman manusia. Ilmu membatasi
lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode
yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenaranya secara empiris.
Ilmu tampa bimbingan moral agama adalah buta, demikian kata eintein. Kebutaan
moral dari ilmu mungkin membawa manusia ke dalam jurang malapetaka. Ruang
penjajahan keilmuan kemudian menjadi kapling-kapling disiplin keilmuan. Dua
cara perkembangan ilmu yakni; filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun
ilmu-ilmu alam dan filsafat moral yang kemudian berkembang kedalam cabang
ilmu-ilmu social. Setiap cabang-cabang ilmu menjadi ranting-ranting baru dari
ilmu. Ilmu social berkembang agak lambatdibandingkan dengan ilmu alam. Cabang
utama ilmu-ilmu social ini kemudian mempunyai cabang lagi seperti antropologi
terpecah menjadi lima yakni, arkeologi, antropoligi fisik, linguistic, entonologi
dan antropologi social. Disamping ilmu alam dan ilmu social, pengetahuan
mencakup juga humaniora dan matematika. Humaniora terdiri dari seni, filsafat,
agama, bahasa dan sejarah.
IV
EPISTEMOLOGI: CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR
Secara ontologis ilmu membatasi diri
pada pengkajian obyek yang berada dalam lingkup pengalaman manusia, sedangkan
agama memasuki pula daerah penjelajahan yang bersifat transcendental yang
berada diluar pengalaman kita. Setiap jenis pengetahuan mempunyai cir-ciri yang
spesipik mengenai apa (antopologi) bagaimana (epistemology) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan
tersebut disusun. Ketiga landasan ini salaing berkaitan; jadi antologi ilmu
terkait dengan epistemology dan aksiologi ilmu dan seterusnya. Jadi kalau kita
ingin membicarakan epistemology ilmu, maka hal ini harus dikaitkan dengan
antologi dan aksiologi ilmu.
Persoalan yang utama yang dihadapi
oleh setiap epistemology adalah bagaimana mendapatkan pengetahuan dengan
memperhitungkan aspek ontology dan aksiologi masing-masing. Demikian juga
halnya dengan masalah yang dihadapi epistemologikeilmuan yakni bagaimana
menyusun pengetahuan yang benar untuk menjawab permasalahan mengenai dunia
empiris yang akan digunakan sebagai alat untuk meramalkan dan mengontrol gejala
alam. Ilmu mecoba mencarikan penjelasan mengenai alam menjadi kesimpulan yang
bersifat umum dan impersional, sebaliknya seni tetap bersifat individual dan
personal, dengan memusatkan perhatiannya pada pengalaman hidup manusia
perseorangan.
Karakteristik akal sehat diberikan
oleh Titus sebagai berikut; 1) karena landasannya yang berakar pada adat dan
tradisi maka akal sehat cendrung untuk bersifat kebiasaan dan pengulangan. 2)
karena landasannya yang berakar kurang kuat maka akal sehat cendrung untuk
bersifat kabur dan samar-samar dan 3) karena kesimpulan yang ditariknya sering
berdasarkan asumsi yang tidak dkaji lebih lanjut maka akal sehat lebih
merupakan pengetahuan yang tidak teruji.
Metode ilmiah yang merupakan
prosedur dan mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Ilmu merupakan
pengetahuan yang di dapatkan melalui metode ilmiah. Proses kegiatan ilmiah
menurut Ritchi Calder, dimulai ketika manusia mengamati sesuatu.secara
etomologi ilmu membatasi masalah yang dikajnya hanya pada masalah yang terdapat
dalam ruang lingkup jangkauan pengalaman manusia. Karena masalah yang dihadapi
adalah nyata maka ilmu mencari jawabannya pada dunia yang nyata pula. Logika
ilmiah merupakan gabungan antara logika deduktif dan logika induktif dimana
rasionalisme dan imperisme hidup berdampingan dalam sebuah system dengan
mekanisme korektif. Dengan dmikian maka penguasaan metode ilmiah merupakan
persyaratan untuk dapat memahami jalan pikiran yang terdapat dalam langkah-langkah
penelitian.
Pengetahuan yang diproses menurut
metode ilmiah merupakan pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat keilmuan, dan
dengan demikian dapat disebut pengetahuan ilmiah atau ilmiah. Ilmu pada
dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai
gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan uang serangkaian tindakan untuk
menguasai gejala tersebut berdasarkan penjelasan yang ada. Teori merupakan
pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari
sebuah didiplin keilmuan.
Disiplin ilmu sering mengembangkan
apa yang disebut postulat dalam msenyusun teorinya. Postulat merupakan asumsi
dasar yang kebenaranya kita terima tanpa dituntut pembuktiannya. Sebuah
postulat dapat diterima kiranya ramalan yang bertumpu kepada postulat
kebenarannya dapat dibuktikian. Asumsi yang harus merupakan pernyataan yang
kebenarannya secara imperis dapat diuji.
V
SARANA BERPIKIR ILMIAH
Penguasaan sarana berpikir ilmiah
ini merupakan suatu hal yang bersifat imperative bagi orang ilmuan. Ditinjau
dari pola pikirnya maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan
berfikir induktif. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada
proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika mempunyai peranan yang
penting dalam dalam berfikir deduktif ini sedangkan statistika mempunyai
peranan dalam berpikir induktif.
Keunikan
manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berfikirnya melainkan
terletak pada kemampuan berbahasa. Tampa mempunyai kemampuan berbahasa maka
kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur tidak mungkin dapat dilakukan,
tampa kemampuan berbahasa ini maka manusia tidak mungkin mengembangkan
kebudayaannya sebab tampa kemampuan berbahasa maka hilang pulalah kemampuan
untuk meneruskan nilai-nilai budaya dari generasi yang satu kepada generasi selanjutnya.
Manusia
dapat berpikir dengan baik karena dia mempunyai bahasa. Tampa bahasa maka
manusia tidak dapat berpikir secara rumit dan abstrak seperti dengan apa yang
kita lakukan dalam kegiatan ilmiah. Binatang tidak dberkahi dengan bahasa yang
sempurna sebagaimana kita miliki, oleh sebab itu binatang tidak dapat berpikir
dengan baik dan mengakumulasikan pengetahuannya lewat proses komunikasi seperti
manusia.
Bahasa
memungkinkan manusia berfikir secara abstrak dimana objek-objek yang factual
ditransformasikan menjadi symbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak. Dengan
adanya informasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai suatu obyek tertentu
meskipun obyek tersebut secara factual tidak berada ditempat di mana kegiatan
berfikir itu dilakukan. Adanya symbol bahasa yang bersifat abstrak ini memungkinkan
manusia untuk memikirkan manusia untuk memikirkan sesuatu secara berlanjut.
Kedua
aspek berbahasa ini aspek informative dan emotif keduanya tercermin dalam
bahasa yang kita pergunakan, artinya, kalau kita berbicara maka pada hakikatnya
informasi yang kiata sampaikan mengandung unsur-unsur emotif, demikian juga
kalau kita menyampaikan perasaan maka ekspresi itu mengandung unsur-unsur
informatif. Bahasa mengkomunikasi tiga hal yakni buah pikiran, perasaan dan
sikap. Dalam komunikasi ilmiah sebenarnya proses komunikasi itu harus terbebas
dari unsur emotif ini, agar pesan yang disampaikan bisa diterimna secarav
reproduktif, artinya identik dengan pesan yang dikirimkan.
Bahasa
dapat kita cirikan sebagai serangkaian bunyi , dalam hal ini kita mempergunakan
bunyi sebagai alat untuk berkomunikasi. Manusia mempergunakan bunyi sebagai
alat berkomunikasi yang paling utama. Dengan adanya bahasa maka manusia hidup
dalam dunia yakni dunia pengalaman yang nyata dan dunia simbolik yang
dinyatakan dengan bahasa.Kebudayaan mempunyai landasan-landasan yang menyatakan
mana tindakan yang baik dan yang tidak baik. Lalu manusia mengembangkan
pengetahuan untuk menguasai alam semesta. Berbekal pengetahuan ini maka manusia
tidak takut lagi terhadap alam
Komunikasi ilmiah mensyaratkan
bentuk komunikasi yang sangat lain dengan komunikasi estetik. Komunikasi ilmiah
bertujuan untuk menyampaikan informasi yang berupa pengetahuan. Komunikasi
ilmiah harus bersifat reproduktif, artinya bila sipengirim komunikasi
menyampaikan sesuatu informasi yang katakanlah berupa x , maka sipenerima
komunikasi harus menerima informasi yang berupa x juga. Sebagai sarana
komunikasi ilmiah bahasa mempunyai kekurangan, kekurangan ini hakikatnya
terletak pada peranan bahasa itu sendiri yang bersifat multi fungsi, yakni
sebagai sarana komunikasi emotif, afektif dan simbolik.
Kekurangan bahasa itu anataranya;
bahasa verbal mau tidak amau tetap mengandung tiga unsure yang bersifat emotif,
afektif, dan simbolik. Kekurangan yang kedua terletak pada arti yang tidak
jelas dan eksak yang didukung oleh kata-kata yang membangun bahasa, kekurangan
yang ketiga bahasa sering bersifat berputar-putar (sirkular) dalam
mempergunakan kata-kata terutama dalam memberikan defenisi dan kekurangan lain terletak
pada sifat manjemuk (pluralistic) dari bahasa dan konotasi yang bersifat
emosional.
Matematika adalah bahasa yang
melambangkan serangkaian makna dari pernyataaan yang ingin kita sampaikan,
lambing-lambang matematika bersifat artificial yang baru mempunyai arti setelah
sebuah makna diberikan padanya. Matematika mempunyai kelebihan lain
dibandingkan dengan bahasa verbal matematika mengembangkan bahasa numeric yang
memungkinkan kita akan melakukan pengukuran secara kuantitaf. Bahasa verbal
hanya mampu mengemukakan pernyataan yang bersifat kualitatif. Untuk mengatasi
masalah ini matematika mengembangkan konsep pengukuran, lewat pengukuran, maka
kita dapat mengetahui dengan tepat. Menurut akal sehat kebenaran matematika
tidak ditentukan oleh pembuktian secar empiris, melainkan kepada proses
penalaran deduktif . disamping sarana berfikir deduktif yang merupakan aspek
estetik matematika juga merupakan kegunaan praktis dalam kehidupan sehari-hari.
VI
AKSIOLOGI; NILAI KEGUNAAN ILMU
Secara
metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan dipihak
lain terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan pernyataan-pernyataan
(nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaranajaran di luar bidang keilmuan
diantaranya agama. Dalam tahap manipulasi maka masalah moral muncul kembali
namun dalam kegiatan dengan factor lain. Kalau dalam tahap kontenplasi masalah
moral berkaitan dengan metafisika keilmuan maka dalam tahap manipulasi ini
maslah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah. Cara
filsafati dapat dikatakan dalam tahap pengembangan konsep terdapat maslah moral
yang ditinjau dari segi ontology keilmuan, sedangkan dalam tahap penerapan
konsep terdapat masalah moral ditinjau dari segi aksiologi keilmuan.
Maslah
moral dalam menghadapi akses ilmu dan teknologi yang bersifat merusak para
ilmuan terbagi kedalam dua golongan pendapat. Golongan pertama menginginkan
bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik itu secara
ontologism maupun aksiologis. Dalam hal ini tugas ilmuan adalah menemukan
pengetahuan dan terserah kepada orang lain untuk mempergunakannya. Golongan
kedua sebaliknya berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai
hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan. Sedangkan dalam penggunaannya,
bahkan pemilihan objek penelitian, maka kegiatan keilmuan harus berlandaskan
asa-asas moral.
Golongan
pertama ingin melanjutkan tradisi kenetralan ilmu secara total seperti pada
waktu era Galileo sedangkan golongan kedua mencoba menyesuaikan kenentralan
ilmu secara pragmatis berdasarkan perkembangan ilmu dan msayarakat. Golongan
dua mendasarkan pendapatnya pada beberapa hal; 1) ilmu secara factual telah
dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya dua
perang dunai yang mempergunakan teknologi-teknologi keilmuan. 2) ilmu telah
berkembang dengan pesat dan semakin esoteric sehingga kaum ilmuan lebih
mengetahui tentang akses-akses yang mungkin terjadi bila terjadi
penyalahgunaan, 3) ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat
kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling
hakiki seperti pada kasus revolusi genitika dan teknik perubahan social.
Berdasarkan ketiga hal diatas maka golongan kedua berpendapat bahwa ilmu secara
moral.
Seorang
ilmuan secara moral tidak akan membiarkan hasil penmuannya diopergunakan untuk
menindas bangsa lain meskipun yang mempergunakan itu adalah bangsanya sendiri,
dan pengetahuan merupakan kekusaan, kekuasaan yang dapat dipakai untuk
kemasalahan kemanusiaan, atau sebaliknya dapat pula disalah gunakan. Seorang
ilmuan tidak boleh memutarbalikkan penemuannya bila hipotesisnya yang dijunjung
tinggi yang disusun diatas kerangka pemikiran yang terpengaruh preferensi moral
ternyata hancur berantakan karena bertentangan dengan moral memilih untuk
membuktikan bahwa generasi muda kita berkesadaran tinggi.
Revolusi
genetika merupakan babakan baru dalam sejarah keilmuan manusia, sebab sebelum
ini ilmu tidak pernah menyentuh manusia sebagai objek penelaahan itu sendiri.
Hal ini bukan berarti bahwa sebelumnya tidak pernah ada penelaahan ilmiah yang
berkaitan dengan jasad manusia. Kesimpulan yang dapat ditarik dari seluruh
pembahasan diatas menyatakan sifat menolak terhadap dijadikannya manusia
sebagain objek penelitian genetika.
VII
ILMU DAN KEBUDAYAAN
Kebudayaan
diartikan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni,
moral, hukum, adat serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia
sebagai anggota masyarakat. Kuntjaraningrat (1974) secara lebih terperinci
membagi kebudayaan menjadi unsur-unsur yang terdiri dari system religi, dan
upacara keagaman, system dan organisasi kemasyarakatan, system pengetahuan,
bahasa, kesenian, system mata pencaharian serta teknologi dan peralatan.
Allport,
Vernon dan Lindzey (1951) mengindentifikasikan enam nilai dasar dalam
kebudayaan yakni nilai teori, ekonomi, estetika, social, politik dan agama.
Yang dimaksud nilai teori adalah hakikat penemuan kebenaran lewat berbagai
metode seperti nasionalisme, emperisme dan metode ilmiah.
Indikator
perkembangan sekarang cendrung untuk mempunyai karakteristik-karakteristik
sebagai berikut: 1) memperhatikan tujuan dan strategi pembangunan nasional kita
maka masyarakat Indonesia akan beralih dari masyarakat nasional kita yang rural agraris menjadi
masyakat modern yang bersifar urban dan bersifat indurtri 2), pengembangan
kebudayaan kita ditunjukkan kea rah perwujudan peradaban yang bersifat khas
berdasarkan filsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia yakni pancasila.
Kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mencari pemecahan
baru terhadap suatu masalah, nilai bersifat mendorong kea rah pengembangan
segenap potensi ke budayaan dalam mewujudkan peradapan yang khas. Kreativitas
sering dihubungkan dengan kreasi dibidang seni. Horace B. English dan Ava C.
English (1958) mendefinisikan aktivitas sebagai kemampuan untuk menciptakan
modus baru baik dalam ekspresi artistic. Untuk pertumbuhan artistic yang luhur
selalu terdapat ladang moral yang subur. Kemajuan pesat di bidang ilmu dan
teknologi yang ternyata tidak memberikan kebahagiaan yang hakiki menyebabkan
manusia berpaling kembali kepada nilai-nilai agama.
VIII
ILMU DAN BAHASA
Manusia dengan segenap kemampuan kemanusiaannya, seperti perasaan,
pikiran, pengalaman, pancaindra dan intuisi mampu menangkap alam kehidupannya
dan mengabstraksikan tangkapan tersebut dalam dirinya dalam berbagai bentuk
“ketahuan” umpamanya kebiasaan, akal sehat, seni, sejarah dan filsafat.
Ketahuan atau knowledge ini merupakan terminology generic yang mencakup segenap bentuk yang
kita tahu sepert filsafat, ekonomi, seni, beladiri, cara menyulam dan biologi
sendiri.
Untuk membedakan tiap-tiap bentuk dari anggota kelompok ketahuan (knowledge) ini terdapat tiga kriteria yakni
1) apakah objek yang ditelaah yang membuahkan ketahuan (knowledge) tersebut, 2)
cara yang dipakai untuk mendapatkan ketahuan (knowledge) tersebut dan 3) untuk
apa ketahuan (knowledge) itu dipergunakan atau nilai kegunaan apa yang dipunyai
olehnya.
Salah satu dari bentuk ketahuan (knowledge) ditandai dengan: 1) objek
antologis, pengalaman manausia yakni sgenap ujud yang tepat dijangkau lewat
pancaindra atau alat yang membantu kemampuan pancaindra, 2) landasan
epistemology; metode ilmiah yang berupa gabungan logika deduktif dan logika
induktif dengan pengajuan hipotesis atau yang disebut ligico-hyhotelico-verifikasi
3) landasan aksiologis;
kemasalahatan manusia artinya segenap ujud ketahuan itu secara moral
ditunjukkan untuk kebaikan hidup manusia.
Bentuk ketahuan (knoeledge) ini
dalam bahasa inggris adalah science dengan demikian masalahnya adalah terdapat perbedaan antara knowledge dan science anatara ketahuan yang bersifat generic dan
bentuk ketahuan yang spesifik yang mempunyai objek ontologism, landasan
epistemologis dan landasan aksiologis yang khas.
IX
PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH
Selaku alat komunikasi pada pokonya
bahasa mencakup tiga unsur yakni, pertama, bahasa selaku alat komunikasi untuk
menyampaikan pesan (emotif), kedua, berklonotasi sikap aafektif dan ketiga
berkonotasi pikiran penalaran. Atau secara umum dapat dikatakan bahwa fungsi
komunikasi bahasa dapat diperinci lebih lanjut menjadi fungsi emotif, afektif
dan penalaran.
Perkembangan bahasa pada dasarnya
adalah pertumbuhan ketiga fungsi komunikatif tersebut agar mampu mencerminkan
perasaan, sikap dan pikiran suatu kelompok masyarakatyang mempergunkan bahasa
tersebut. Argumentasi tersebut mengiring pada kesimpulan bahwa perkembangan
bahasa Indonesia menjadi bahasa yang modern, haruslah memperhatikan ketiga
unsur tadi seimbang.
Struktur penelitian dan penulisan
ilmiah yang secara logis dan kronologis mencerminkan kerangka penalaran ilmiah
yakni; 1) pengajuan masalah yaitu suatu hal yang harus disadari bahwa pada
hakikatnya suatu masalah tidak bisa berdiri sendiri dan terisolasi dari factor-faktor
lain, 2) penyusunan kerangka teoris, setelah berhasil merum,uskan masalah
dengan baik maka langkah yang kedua mengajukan hipotesis, hipotesis merupakan
dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan, 3) metodologe penelitan, setalah berhasil merumuskan
hipotesis yang diturunkan secara deduktif dari pengetahuan ilmioah yang relevan
maka langkah yang berikutnya adalah menguji hipotesis tersebut secara emperis.
4) hasil penelitian, setelah perumusan, pengajuanm hipoteses, penetaapan
metodologi penelitian maka sampai kita kepada langkah yang berikutnya
melaporkan apa yang ditemukan dalam penelitian. Sebaiknya bagian ini
betul-betul dipergunakan untuk menarik kesimpulan penelitian. 5) ringkasan dan
kesimpulan, kesimpulan pengujian hipotesis kemudian dikembangkan menjadi
kesimpulan penelitian yang ditulis dalam bab tersendiri.
C. KOMENTAR
Buku
yang berjudul filsafat ilmu sebuah pengantar popular karangan Jujun
S. Suriasumantri ini telah
menjelaskan tentang filsafat ilmu dengan rinci, pembahasan pada setiap pokok
bahasan dimulai penulis dengan memaparkan fonemena-fonemena yang sering ditemui
dalam kehidupan sehari-hari masyarakat ilmu. Dengan contoh yang deberikan
penulis ini, pembaca dengan mudah memahami materi yang disajikan penulis. Pembahasan
yang sangat popular menyebabkan terhindar dari masalah-maslah yang bersifat
rumit kontrovesial. Disamping memberikan contoh yang tidak jauh dari kehidupan
sehari-hari masyarakat, penulis jaga menjelaskan dengan kaitan contoh tersebut
dengan materi yang dibahas sehingga pembaca dengan cepat menentukan memahami
tujuan materi yang dibahas.
Selain
hal diatas, buku filsafat ilmu sebuah pengantar popular karangan Jujun
S. Suriasumantri ini dibandingakn dengan buku filsafat ilmu yang
lainnya seperti
- Judul buku : Filsafat Ilmu
- Pengarang : Prof. Dr. Amsal Baktiar, M.A
- Penerbit : Rajawali Press
- Jumlah halaman : 251
- Cetakan : 2013
- ISBN : 979-421-993-2
Buku
filsafat ilmu sebuah pengantar popular karangan Jujun
S. Suriasumantri ini jauh lebih
sempurna dan lebih mendalam kajianya dibandingkan buku karangan Prof. Dr. Amsal
Baktiar, MA. Buku karangan Prof. Dr. Amsal Baktiar, MA., ditulis berdasarkan
persiapan dan hasil diskusi ketika penulis mengajar mata kuliah filsafat ilmu.
Dengan demikian buku karangan Prof. Dr.
Amsal Baktiar, MA., tentu mempunyai keunggulan tersendiri disbandingkan dengan
buku karangan Jujun S. Suriasumantri, dilihat dari penyajian materi buku karangan Prof.
Dr. Amsal Baktiar, MA., sangat simpel karena materi yang diuraikan merujuk pada
pendapat para ahli sebelumnya, sedangkan buku karangan Jujun S. Suriasumantri
mulai dari fenomena-fenomena yang dialami masyarakat ilmu pada umumnya. Pokok
bahasan buku karangan Prof. Dr. Amsal Baktiar, MA., mencakup sejarah
perkembangan ilmu, objek, metode, dan tujuan ilmu, serta hakikat sumber ilmu
dan kriteria kebenaran, namuan mteri tersebut tidak dijelaskan dengan contoh.
Buku
filsafat ilmu sebuah pengantar popular karangan Jujun
S. Suriasumantri ini dibandingakn dengan buku kedua
a. Judul
buku :
Filsafat Ilmu dan perkembangannya di
Indonesia
b. Pengarang :
Drs. Surajiyo
c. Penerbit :
Bumi Aksara
d. Jumlah halaman :
251
e. Cetakan :
2013
f. ISBN :
(10) 979-010-064-7
Buku karangan Drs. Surajiwo ini,
membahas filsafat ilmu dan perkembanganya di Indonesia. Buku ini berpandangan
kearah perkembangan ilmu dan filsafat pada masa sekarang. Pokok bahasan hanya
dibahas sekedar penguat perkembangan filsifat ilmu di Indonesia, hal ini dapat
dilihat pada hakikat pokok bahasan yang disajikan dalam buku ini. Bahasan buku
ini hanya menjelaskan hakikat pokok materi itu hanya sekadar definisi menurut
para ahli.
Dari kedua buku pembanding ini, buku
karangan Jujun S. Suriasumantri yang berjudul filsafat ilmu sebuah pengantar popular
lebih sempurna. Dilihat dari bahasa mudah dipahami pembaca, dan setiap materi
di iringi dengan contoh yang tidak jauh dari pikiran pembaca. Metode yang
diterapkan pengarang dalam buku ini mengarahkan pembaca pada tujuan utama buku
ini adalah untuk mengenal alur-alu berpikir dalam kegiatan keilmuan dan mencoba
menerapkannya kepada masalah-masalah praktis dalam kehidupan kita.
D. PENUTUP
Pandangan
saya terhadap buku karangan Jujun S. Suriasumantri ini, dengan keberadaan buku
ini akan menambah wawasan pembaca untuk mengenal lebih jauh filsafat ilmu
meliputi ilmu filsafat, filsafat pengetahuan (epistemology) dan ruang
lingkupnya; masalah ilmu pengetahuan meliputi sejarah, prinsip metologi,
penemuan kebenaran, definisi kebenaran; mengenai pengembangan ilmu pengetahuan
meliputi hubungan dan peran ilmu terhadap kebudayaan nasional, etika keilmuan,
dan strategi pengembangan ilmu.
Buku
ini bagus dijadikan sebagai referensi wajib bagi mahasiswa S1 maupun mahasiswa
pascasarjana dalam mata kuliah filsafat ilmu, karena buku ini melatih kita
menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam berpikir sesuai dengan aturan-aturan
ilmiah, memberikan spirit bagi pengembangan dan kemajuan ilmu sekaligus
nilai-nilai moral yang terkandung pada setiap ilmu, menyadari bahwa ilmu bahwa
ilmu yang diperoleh jauh dari mencukupi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar