Jumat, 17 April 2015

FILSAFAT ILMU



LAPORAN BACAAN
TUGAS 1

A.                PENDAHULUAN
  1. Judul buku                  : Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer
  2. Pengarang                   : Jujun S. Suriasumantri
  3. Penerbit                       : Pustaka Sinar Harapan
  4. Tahun terbit                 : 2007
  5. Cetakan                       : Cetakan Kedua puluh, Juli 2007
  6. Kota Penerbi               : Jakarta
  7. Penerbit                       : Pustaka Sinar Harapan, Anggota IKAPI Jakarta
  8. Alamat penerbit          : Jl. Dewi Sartika 136-D Cawang, Jakarta 13630, Telp. (021)
                                      8015262: 8006981. Fax (021) 8006982.
  1. E-mail                          : pshjkt@yahoo.com
  2. Tinggi buku                 : 20 cm
  3. Lebar buku                  : 14,5 cm
  4. Jumlah halaman           : 382
  5. No ISBN: 978-416-899-8

B.                          LAPORAN BAGIAN BUKU

Pada bagian cover, sampul buku berwarna biru tua atau donker. Pada bagian atas terdapat nama pengarang yang ditulis dengan huruf kapital. Urutan kedua di bawah nama pengarang terdapat judul buku yang ditulis dengan huruf kapital berdasarkan frase “FILSAFAT ILMU” dengan tinggi huruf 1 cm ditulis dengan warna putih, pada baris kedua ditulis dengan huruf capital “SEBUAH PENGANTAR” dengan tinggi huruf 8 mm, pada baris ketiga “POPULER” dengan tinggi huruf 88 mm ditulis dengan warna putih, Terdapat sebuah gambar dengan ukuran 6,5 x 5,5 cm, yaitu gambar gajah dengan warna putih berlatar abu-abu. Di bawah gambar gajah terdapat nama penulis kata pengantar “ANDI HAKIM NASUTION”  berwarna kuning, dan pada bagian kiri bawah terdapat logo atau singkatan dari penerbit dengan warna putih. Pada bagian belakang buku (Tulang buku),  ditulis judul buku warna putih dan pada  bagian cover lakang terdapat kata-kata dari penulis mengenai isi dari buku filsafat ilmu yang ditulis dengan warna putih. Pada bagian tengah bawah buku, terdapat nama kota dan lembaga penerbit.

Intisari buku
I
ILMU DAN FILSAFAT
Fokus utama dari pembahasan buku adalah tema pokok yang hidup di sekitar masyarakat keilmuan, supaya masyarakat keilmuan melibatkan diri kepada variasi-variasi yang berkembang pada tema pokok tersebut. Pengkajian dalam buku ini adalah untuk mengenal alur-alur berpikir dalam kegiatan keilmuan dan mencoba menerapkannya kepada masalah-masalah praktis dalam kehidupan masyarakat. Jadi “filsafat untuk filsafat” bukanlah prinsip yang mendasari analisis dalam buku ini. Untuk itu maka asas-asas filsafat keilmuan dicoba diterapkan terhadap permasalahan yang aktual dewasa ini seperti usaha peningkatan penalaran, permasalahan moral dalam kegiatan keilmuan, kaitan ilmu dengan kebudayaan, perkembangan bahasa nasional, penerapan asas-asas keilmuan dalam kegiatan penelitian dan pembahasan tentang penulisan ilmiah.
Pada bab I ini, menjelaskan bahwa pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu, kepastian dimulai dari rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat berarti berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesesmestaan yang seakan tidak terbatas. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, sebarapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau. Berdasrkan paparan diatas dapat kita simpulkan bahwa filsafat itu lahir dari ilmu pengetahuan, dengan adanya ilmu pengetahuan mengajak kita untuk mengoreksi diri. Ilmu meruopakan pengetahuan yang kita gumuli sejak bangku sekolah dasar sampai pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi. Berfilsafat berarti kita berterus terang kepada diri sendiri. Seseorang berfilsafat dapat diumpamakan seorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya sendiri.
Buku ini menjelaskan karakteristik berpikir secara filsafat yaitu menyeluruh, mendasar dan spekulatif. Menyeluruh berarti seorang ilmuan tidak puas mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Secara menyeluruh ingin melihat dan mengetahui hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan lainnya. Mendasar berarti, tidak mudah percaya begitu saja bahwa ilmu itu benar. Seorang ilmuwan akan mempertanyakan dasar dari sesuatu yang dia ketahui atau sesuatu yang ingin diketahui.
Filsafat merupakan penentu tempat berpijak bagi kegiatan keilmuwan. Filsafat menjadi ilmu maka terdapat taraf peralihan. Taraf peralihan mengakibatkan bidang penjelajahan filsafat menjadi lebih sempit (sektoral). Secara konseptual ilmu masih mendasarkan kepada norma-norma filsafat. Metode yang dipakai yaitu normatif dan deduktif, berdasarkan asas-asas moral yang filsafati. Ilmu menyatakan dirinya otonom dari konsep filsafat dan mendasarkan sepenuhnya kepada hakikat alam sebagaimana adanya. Ilmu mendasarkan kepada penemuan alamiah sebagaimana adanya.
Menurut Auguste Comte (1798-1857) tingkat perkembangan pengetahuan ; 1) tahap religius, asas religilah yang dijadikan postulat ilmiah sehingga ilmu merupakan deduksi atau penjabatan dari ajaran religi. 2) tahap metafisik, keberadaan (wujud) yang menjadi objek penelahaan yang terbebas dari dogma religi. 3) tahap positif, asas-asas yang dipergunakan diuji secara positif dalam proses verifikasi yang objektif.
Filsafat pada dasaranya bersifat spekulatif. Filsafat menelaah segala masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Sesuai dengan fungsinya, filsafat mempermasalahkan hal-hal pokok, terjawab masalah yang satu maka filsafat akan mulai merambah masalah atau pertanyaan lain. Dalam contoh, seorang profesor menjelaskan permasalahan yang dikaji filsafat melalui sajak.
What is a man?
What is?
What?
What is a man? Maksudnya adalah filsafat mempersoalkan siapakah manusia. Tahap ini dapat dihubungkan denga segenap pemikiran ahli-ahli filsafat sejak zaman Yunani Kuno sampai sekarang yang rupa-rupanya tak kunjung selesai mempermasalahkan makhluk yang satu ini. Kadang kurang disadari bahwa tiap ilmu, terutama ilmu-ilmu sosial, mempunyai asumsi tertentu tentang manusia yang menjadi lakon utama dalam kajian keilmuannya. What is? Maksudnya adalah filsafat mempertanyakan tentang hidup dan eksistensi manusia. Apakah hidup ini sebenarnya? apakah hidup itu sekadar peluang dengan nasib yang melempar dadu acak?. What? Tahap yang ketiga skenario bermula pada suatu pertemuan ilmiah, di mana seorang ilmuwan berbicara mengenai suatu penemuan dalam risetnya. Setelah berjam-jam dia berbicara dan bertanya kepada hadirin: apakah ada kiranya yang belum jelas? Salah seorang bangkit dan sepertinya pekak, memasang kedua belah tangan di samping kupingnya, apa? (rupanya sejak tadi dia tak mendengarkan apa-apa).

II
DASAR-DASAR PENGETAHUAN
Menurut Wittgenstein tugas utama filsafat bukanlah menghasilkan susunan pertanyaan filsafati, melainkan menyatakan sebuah pernyataan sejelas mungkin. Dengan demikian maka epistemologi dan bahasa merupakan gumulan utama para filsuf dalam tahap ini. Permasalahan yang dikaji filsafat mencakup tiga segi, apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah (logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika), serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika). Ketiga cabang utama filsafat ini kemudian bertambah lagi yakni, pertama, teori tentang ada: hakikat keberadaan zat, hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran yang semuanya terangkun dalam metafisika; dan kedua, politik. kelima cabang utama kemudian berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian lebih spesifik di antaranya filsafat ilmu. Cabang-cabang filsafat tersebut antara lain mencakup; 1) epistemology (filsafat pengetahuan) 2) etika (filsafat moral) 3) Estetika (filsafat seni) 4) metafisaka 5) politik (filsafat pemerintahan)  6) filsafat agama 7) filsafat ilmu 8) filsafat pendidikan 9) filsafat hokum 10) filsafat sejarah 11) filsafat matematika.
Inti sari pembahasan pada bab I buku ini adalah membedakan jenis pengetahuan yang satu pengetahuan dengan pengetahuan yang lain. Apa yang dikaji oleh pengetahuan tersebut, bagaimana membedakan pengetahuan tersebut, serta untuk apa pengetahuan tersebut. Dengan mengetahui jawaban pertanyaan ini maka kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah manusia.
            Kemampuan menalar manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan-kekuasaannya. Secara simbolik manusia memakan buah pengetahuan lewat Adam dan Hawa dan setelah itu manusia harus hidup berbekal pengetahuan. Dengan mengetahaui mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, dalam melakukan pilihan ini manusia berpaling pada pengetahuan.
            Perbedaan manusia dengan hewan lain antaranya manusia mampu mengembangkan pengetahuan secara bersungguh-sungguh, sementara hewan mempunyai pengetahuan, namun pengetahuan binatang ini terbatas untuk kelansungan hidupnya. Kera tahu mana buah jambu yang enak, tikus tahu mana kucing yang ganas, tikus ini tetntu diajari induknya untuk sampai pada pengetahuan bahwa kucing itu berbahaya.
            Faktor penyebab manusia mampu mengembangkan pengetahuan; 1) manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatar belakangi informasi tersebut. 2) kemampuan berfikir menurut suatu alur kerangka berfikir tertentu. Secara garis besar cara berfikir seperti ini desebut penalaran. Binatang mampu untuk berfikir namun binatang tidak mampu bernalar. Dua kelibihan ini yang memungkinkan manusia mengembangkan pengetahuannya yakni bahasa yang bersifat kominikatif dan fikiran yang mampu bernalar.
            Manusia pada hakikatnya merupakan makluk yang berfikir, merasa, bersikap dan bertindak. Sikap dan tindakan yang bersumber pada pengetahuan yang didapatkan leawat kegiatan merasa atau berfikir. Penalaran manusia menghasilkan pengetahaun yang dikaitkan dengan kegiatan berfikir dan bukan dengan perasaan. Berfikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Setiap jalan fikiran mempunyai apa yang disebut sebagai kriterai kebenaran, dan kriterai kebenaran ini merupakan landasan bagi proses penemuan kebenaran tersebut.
            Sebagai suatu kegiatan berfikir  maka penalaran mempunyai cirri-ciri tertentu. Pertama, adanya suatu pola berfikir yang secara luas dapat disebut logika. Kedua, sifat analitik dari proses berfikirnya. Kegiatan berfikir juga ada yang tidak berdasarkan penalaran umpanya adalah intuisi, intuisi meruapakan suatu kegiatan berfikir yang non analitik yang tidak berdasarkan diri kepada suatu pola berfikir tertentu. Berfikir intuitif ini memegang peranan yang penting dalam masyarakat yang berfikir  non analitik. Yang kemudian sering bergalau dengan perasaan.
            Buku ini mengarahkan pada penalaran ilmiah. Dalam mengembangkan kekuatan penalaran merupakan bagian dari usaha untuk meningkatkan mutu ilmu dan teknologi. Penalaran ilmiah pada hakikatnya merupakan gabungan dari penalaran deduktif dan induktif, dimana lebih lanjut penalaran deduktif terkait dengan rasionalisme, dan penalaran induktif dengan emperisme. Dalam mengkaji penalaran ilmiah kita terlebih dahulu harus menelaah  dengan seksama penaran dekduktif dan penalaran induktif tersebut.
            Suatu penarikan kesimpulan diangap sahih (valid) kalau proses penarikan kesimpulan itu dilakukan menurut cara tertentu, cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, di mana logika secara luas dapat didefenisikan sebagai pengkajian untuk berfikir secara sahih. Cara penarikan kesimpulan yakni logika induktif dan logika deduktif. Logika erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat umum. Sedangkan di pihak lain, kita mempunyai logika dedukti, yang membantu kita dalam menarik kesimpulan dari hasil yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat individual (khusus)
            Kesimpulan yang bersifat umum ini penting artinya sebab mempunyai dua keuntungan. Keuntungan pertama, bahwa pernyataan yang bersifat umum ini bersifat ekonomis. Keuntungan kedua adalah dimungkinkan proses penalaran selanjutnya baik secara induktif maupun secara deduktif. Penalaran deduktif adalah kegiatan berfikir yang sebaliknya dari penalaran induktif. Deduktif adalah cara berfikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berfikir yang dinamakan silogismus. Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Penarikan kesimpulan tergantung dari tiga hal yakni kebenaran premis mayor, kebenaran primis minor dan keabsahan pengambilan kesimpulan. Ketiga unsur tersebut persyatanya tidak terpenuhi maka kesimpulan yang ditarik akan salah. Contoh kesimpualan yang dsusun secara deduktif adalah matematika.
`           Dua cara manusia mendapatkan untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, pertama adalah mendasarkan diri pada rasio dan yang kedua mendasarkan diri pada pengalaman. Kaum rasionalis mengembangkan paham apa yang kita kenal dengan rasionalisme. Sedang yang mendasarkan diri pada pengalaman mengembangkan paham yang desbut dengan emperisme. Kaum empiris menganggap bahwa dunia fisik adalah nyata karena merupakan segala yang ditangkap pancaindra. Hal ini membawa kita kedua masalah. Pertama, sikranya kita mengetahui dua fakta yang nyata, masalah kedua adalah mengenai hakikat pengalaman yang merupakan cara dalam menemukan pengetahuan dan pancaindera sebagai alat yang menangkapnya.
            Disamping rasionalisme dan empirisme masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain. Yang penting untuk dikatahui adalah intuisi dan wahyu, sampai sejauh ini, pengetahuan yang didapatkan secara rasional maupun secara empiris, keduanya merupakan induk produk dari sebuah rangkaian penalaran. Intusin bersfat personal dan tidak bias diramalkan. Sebagai dasar untuk menyusun pengetahuan secara teratur maka intuisi ini tidak bisa diandalkan. Pengetahuan intuitif dan analitik bisa bekerja saling membantu dalam menemukan kebenaran.
            Teori kebenaran disebut teori koherensi, secara sederhana dapat disimpulkan berdasarkan teori koherensi suatu pernyataan diangap benar bila pernyataan itu bersifat koherena atau konsisten dengan pernyatan-pernyataan sebelumnya yang diangap benar. Matematika ialah bentuk pengetahuan yang penyusunannya dilakukan pembuktian berdasarkan teori koheren. Paham lain adalah kebenaran yang berdasarkan kepada teori korespondensi, dimana eksponen utamanya adalah Bertrand Russell (1872-1970) bagi penganut teori korespondensi maka suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang terkandung pernyataan itu berkorespondesnsi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Kedua teori kebenaran ini yakni teori koherensi dan teori  korespndensi  kedua-duanya dipergunakan dalam cara berfikir ilmiah.
            Tafsiran yang paling pertama yang diberikan oleh manusia terhadap alam adalah bahwa terhadap ujud-ujud yang bersifat gaib (supernatural) dan ujud-ujud ini bersifat ini bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata. Sebagai lawan dari sipernaturalisme maka terdapat paham naturalism yang menolak pendapat bahwa terdapat ujud-ujud yang bersifat supernatural ini. Metarialisme, yang merupakan paham berdasarkan naturalism ini, berpendapat bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan yang bersifat gaib, melainkan oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri yang dapat dipelajari dan dengan demikian dapat kita ketahui.

III
OMTOLOGI: HAKIKAT APA YANG DIKAJI
            Dalam metafisikamaka penafsiran dualistic membedakan antara zat dan kesadaran (pikiran) yang bagi mereka berbeda sui generis secara substansif. Filsuf yang menganut paham dualistic ini diantaranya adalah Rene Deskartes (1596-1650), John Locke (1632-1714) dan Geoge Berkeley (1685-1753). Ketiga ahli filsafat ini berpendapat bahwa apa yang ditangkap oleh pikiran, termasuk pengindraan dari segenap pengalaman manusia adalah bersifat mental.
            Locke sendiri menganggap bahwa pikiran manusia pada mulanya dapat diibaratkan sebuah lempeng lilin yang licin (tabula rasa) dimana pengalaman indera kemudian melekat pada lempeng tersebut makin lama makin banyak pengalaman indera yang terkumpul dan kobinasi dari pengalaman-pengalaman indera ini seterusnya membuahkan ide yang kian rumit. Dengan demikian pikiran dapat diibaratkan sebagai organ yang menangkap dan menyimpan pengalaman indera. Dalam hal ini aliran monistik mempunyai pendapat yang tidak membedakan antara pikiran dan zat. Mereka hanya berbeda dalam gejala disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai substansi yang sama. Untuk meletakkan ilmu dalam perspektif filsafat kita harus bertanya pada diri sendiri apakah yang sebenarnya yang ingin dipelajari ilmu. Apakah ilmu ingin mempelajari hukum kejadian yang berlaku bagi seluruh manusia.
            Dalam mengembangkan asumsi yang harus diperhatikan adalah pertama, asumsi ini harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan. Asumsi ini harus operasional dan merupakan dasar dari pengkajian teoritis. Asumsi bahwa manusia dalam administrasi adalah manusia administrasi. Asumsi manusia dalam administrasi yang bersifat operasional adalah makluk ekonomis, makluk social, makluk aktualisasi diri atau makluk yang kompleks.berdasarkan asumsi-asumsi ini maka dapat dikembangkan berbagai model , strategi dan praktek administrasi. Kedua, asumsi ini harus disimpulkan dari keadaan sebagaimana adanya bukan bagaimana keadaan yang seharusnya. Asumsi yang pertama adalah asumsi yang mendasari telaahan ilmiah sedangkan asumsi yang kedua adalah asumsi yang mendasari telaahan moral. Seorang ilmuan harus benar-benar mengenal asumsi yang dpergunakan dalam analisis keilmuannya. Sebab mempergunakan asumsi yang berbeda, maka berarti berbeda pula konsep pemikiran yang dipergunakan. Asumsi y ang melandasi suatu kajian ke ilmuan tidak bersifat tersurat melainkan tersirat.
            Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti dibatas pengalaman manusia. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenaranya secara empiris. Ilmu tampa bimbingan moral agama adalah buta, demikian kata eintein. Kebutaan moral dari ilmu mungkin membawa manusia ke dalam jurang malapetaka. Ruang penjajahan keilmuan kemudian menjadi kapling-kapling disiplin keilmuan. Dua cara perkembangan ilmu yakni; filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam dan filsafat moral yang kemudian berkembang kedalam cabang ilmu-ilmu social. Setiap cabang-cabang ilmu menjadi ranting-ranting baru dari ilmu. Ilmu social berkembang agak lambatdibandingkan dengan ilmu alam. Cabang utama ilmu-ilmu social ini kemudian mempunyai cabang lagi seperti antropologi terpecah menjadi lima yakni, arkeologi, antropoligi fisik, linguistic, entonologi dan antropologi social. Disamping ilmu alam dan ilmu social, pengetahuan mencakup juga humaniora dan matematika. Humaniora terdiri dari seni, filsafat, agama, bahasa dan sejarah.

IV
EPISTEMOLOGI: CARA MENDAPATKAN PENGETAHUAN YANG BENAR
            Secara ontologis ilmu membatasi diri pada pengkajian obyek yang berada dalam lingkup pengalaman manusia, sedangkan agama memasuki pula daerah penjelajahan yang bersifat transcendental yang berada diluar pengalaman kita. Setiap jenis pengetahuan mempunyai cir-ciri yang spesipik mengenai apa (antopologi) bagaimana (epistemology) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini salaing berkaitan; jadi antologi ilmu terkait dengan epistemology dan aksiologi ilmu dan seterusnya. Jadi kalau kita ingin membicarakan epistemology ilmu, maka hal ini harus dikaitkan dengan antologi dan aksiologi ilmu.
            Persoalan yang utama yang dihadapi oleh setiap epistemology adalah bagaimana mendapatkan pengetahuan dengan memperhitungkan aspek ontology dan aksiologi masing-masing. Demikian juga halnya dengan masalah yang dihadapi epistemologikeilmuan yakni bagaimana menyusun pengetahuan yang benar untuk menjawab permasalahan mengenai dunia empiris yang akan digunakan sebagai alat untuk meramalkan dan mengontrol gejala alam. Ilmu mecoba mencarikan penjelasan mengenai alam menjadi kesimpulan yang bersifat umum dan impersional, sebaliknya seni tetap bersifat individual dan personal, dengan memusatkan perhatiannya pada pengalaman hidup manusia perseorangan.
            Karakteristik akal sehat diberikan oleh Titus sebagai berikut; 1) karena landasannya yang berakar pada adat dan tradisi maka akal sehat cendrung untuk bersifat kebiasaan dan pengulangan. 2) karena landasannya yang berakar kurang kuat maka akal sehat cendrung untuk bersifat kabur dan samar-samar dan 3) karena kesimpulan yang ditariknya sering berdasarkan asumsi yang tidak dkaji lebih lanjut maka akal sehat lebih merupakan pengetahuan yang tidak teruji.
            Metode ilmiah yang merupakan prosedur dan mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Ilmu merupakan pengetahuan yang di dapatkan melalui metode ilmiah. Proses kegiatan ilmiah menurut Ritchi Calder, dimulai ketika manusia mengamati sesuatu.secara etomologi ilmu membatasi masalah yang dikajnya hanya pada masalah yang terdapat dalam ruang lingkup jangkauan pengalaman manusia. Karena masalah yang dihadapi adalah nyata maka ilmu mencari jawabannya pada dunia yang nyata pula. Logika ilmiah merupakan gabungan antara logika deduktif dan logika induktif dimana rasionalisme dan imperisme hidup berdampingan dalam sebuah system dengan mekanisme korektif. Dengan dmikian maka penguasaan metode ilmiah merupakan persyaratan untuk dapat memahami jalan pikiran yang terdapat dalam langkah-langkah penelitian.
            Pengetahuan yang diproses menurut metode ilmiah merupakan pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat keilmuan, dan dengan demikian dapat disebut pengetahuan ilmiah atau ilmiah. Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan uang serangkaian tindakan untuk menguasai gejala tersebut berdasarkan penjelasan yang ada. Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah didiplin keilmuan.
            Disiplin ilmu sering mengembangkan apa yang disebut postulat dalam msenyusun teorinya. Postulat merupakan asumsi dasar yang kebenaranya kita terima tanpa dituntut pembuktiannya. Sebuah postulat dapat diterima kiranya ramalan yang bertumpu kepada postulat kebenarannya dapat dibuktikian. Asumsi yang harus merupakan pernyataan yang kebenarannya secara imperis dapat diuji.

V
SARANA BERPIKIR ILMIAH
            Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat imperative bagi orang ilmuan. Ditinjau dari pola pikirnya maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan berfikir induktif. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam dalam berfikir deduktif ini sedangkan statistika mempunyai peranan dalam berpikir induktif.
Keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuan berfikirnya melainkan terletak pada kemampuan berbahasa. Tampa mempunyai kemampuan berbahasa maka kegiatan berpikir secara sistematis dan teratur tidak mungkin dapat dilakukan, tampa kemampuan berbahasa ini maka manusia tidak mungkin mengembangkan kebudayaannya sebab tampa kemampuan berbahasa maka hilang pulalah kemampuan untuk meneruskan nilai-nilai budaya dari generasi yang satu kepada generasi selanjutnya.
Manusia dapat berpikir dengan baik karena dia mempunyai bahasa. Tampa bahasa maka manusia tidak dapat berpikir secara rumit dan abstrak seperti dengan apa yang kita lakukan dalam kegiatan ilmiah. Binatang tidak dberkahi dengan bahasa yang sempurna sebagaimana kita miliki, oleh sebab itu binatang tidak dapat berpikir dengan baik dan mengakumulasikan pengetahuannya lewat proses komunikasi seperti manusia.
Bahasa memungkinkan manusia berfikir secara abstrak dimana objek-objek yang factual ditransformasikan menjadi symbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak. Dengan adanya informasi ini maka manusia dapat berpikir mengenai suatu obyek tertentu meskipun obyek tersebut secara factual tidak berada ditempat di mana kegiatan berfikir itu dilakukan. Adanya symbol bahasa yang bersifat abstrak ini memungkinkan manusia untuk memikirkan manusia untuk memikirkan sesuatu secara berlanjut.
Kedua aspek berbahasa ini aspek informative dan emotif keduanya tercermin dalam bahasa yang kita pergunakan, artinya, kalau kita berbicara maka pada hakikatnya informasi yang kiata sampaikan mengandung unsur-unsur emotif, demikian juga kalau kita menyampaikan perasaan maka ekspresi itu mengandung unsur-unsur informatif. Bahasa mengkomunikasi tiga hal yakni buah pikiran, perasaan dan sikap. Dalam komunikasi ilmiah sebenarnya proses komunikasi itu harus terbebas dari unsur emotif ini, agar pesan yang disampaikan bisa diterimna secarav reproduktif, artinya identik dengan pesan yang dikirimkan.
Bahasa dapat kita cirikan sebagai serangkaian bunyi , dalam hal ini kita mempergunakan bunyi sebagai alat untuk berkomunikasi. Manusia mempergunakan bunyi sebagai alat berkomunikasi yang paling utama. Dengan adanya bahasa maka manusia hidup dalam dunia yakni dunia pengalaman yang nyata dan dunia simbolik yang dinyatakan dengan bahasa.Kebudayaan mempunyai landasan-landasan yang menyatakan mana tindakan yang baik dan yang tidak baik. Lalu manusia mengembangkan pengetahuan untuk menguasai alam semesta. Berbekal pengetahuan ini maka manusia tidak takut lagi terhadap alam
            Komunikasi ilmiah mensyaratkan bentuk komunikasi yang sangat lain dengan komunikasi estetik. Komunikasi ilmiah bertujuan untuk menyampaikan informasi yang berupa pengetahuan. Komunikasi ilmiah harus bersifat reproduktif, artinya bila sipengirim komunikasi menyampaikan sesuatu informasi yang katakanlah berupa x , maka sipenerima komunikasi harus menerima informasi yang berupa x juga. Sebagai sarana komunikasi ilmiah bahasa mempunyai kekurangan, kekurangan ini hakikatnya terletak pada peranan bahasa itu sendiri yang bersifat multi fungsi, yakni sebagai sarana komunikasi emotif, afektif dan simbolik.
            Kekurangan bahasa itu anataranya; bahasa verbal mau tidak amau tetap mengandung tiga unsure yang bersifat emotif, afektif, dan simbolik. Kekurangan yang kedua terletak pada arti yang tidak jelas dan eksak yang didukung oleh kata-kata yang membangun bahasa, kekurangan yang ketiga bahasa sering bersifat berputar-putar (sirkular) dalam mempergunakan kata-kata terutama dalam memberikan defenisi dan kekurangan lain terletak pada sifat manjemuk (pluralistic) dari bahasa dan konotasi yang bersifat emosional.
            Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataaan yang ingin kita sampaikan, lambing-lambang matematika bersifat artificial yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan padanya. Matematika mempunyai kelebihan lain dibandingkan dengan bahasa verbal matematika mengembangkan bahasa numeric yang memungkinkan kita akan melakukan pengukuran secara kuantitaf. Bahasa verbal hanya mampu mengemukakan pernyataan yang bersifat kualitatif. Untuk mengatasi masalah ini matematika mengembangkan konsep pengukuran, lewat pengukuran, maka kita dapat mengetahui dengan tepat. Menurut akal sehat kebenaran matematika tidak ditentukan oleh pembuktian secar empiris, melainkan kepada proses penalaran deduktif . disamping sarana berfikir deduktif yang merupakan aspek estetik matematika juga merupakan kegunaan praktis dalam kehidupan sehari-hari.
             
VI
AKSIOLOGI; NILAI KEGUNAAN ILMU
Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan dipihak lain terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaranajaran di luar bidang keilmuan diantaranya agama. Dalam tahap manipulasi maka masalah moral muncul kembali namun dalam kegiatan dengan factor lain. Kalau dalam tahap kontenplasi masalah moral berkaitan dengan metafisika keilmuan maka dalam tahap manipulasi ini maslah moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah. Cara filsafati dapat dikatakan dalam tahap pengembangan konsep terdapat maslah moral yang ditinjau dari segi ontology keilmuan, sedangkan dalam tahap penerapan konsep terdapat masalah moral ditinjau dari segi aksiologi keilmuan.
Maslah moral dalam menghadapi akses ilmu dan teknologi yang bersifat merusak para ilmuan terbagi kedalam dua golongan pendapat. Golongan pertama menginginkan bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik itu secara ontologism maupun aksiologis. Dalam hal ini tugas ilmuan adalah menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang lain untuk mempergunakannya. Golongan kedua sebaliknya berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan. Sedangkan dalam penggunaannya, bahkan pemilihan objek penelitian, maka kegiatan keilmuan harus berlandaskan asa-asas moral.
Golongan pertama ingin melanjutkan tradisi kenetralan ilmu secara total seperti pada waktu era Galileo sedangkan golongan kedua mencoba menyesuaikan kenentralan ilmu secara pragmatis berdasarkan perkembangan ilmu dan msayarakat. Golongan dua mendasarkan pendapatnya pada beberapa hal; 1) ilmu secara factual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya dua perang dunai yang mempergunakan teknologi-teknologi keilmuan. 2) ilmu telah berkembang dengan pesat dan semakin esoteric sehingga kaum ilmuan lebih mengetahui tentang akses-akses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalahgunaan, 3) ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus revolusi genitika dan teknik perubahan social. Berdasarkan ketiga hal diatas maka golongan kedua berpendapat bahwa ilmu secara moral.
Seorang ilmuan secara moral tidak akan membiarkan hasil penmuannya diopergunakan untuk menindas bangsa lain meskipun yang mempergunakan itu adalah bangsanya sendiri, dan pengetahuan merupakan kekusaan, kekuasaan yang dapat dipakai untuk kemasalahan kemanusiaan, atau sebaliknya dapat pula disalah gunakan. Seorang ilmuan tidak boleh memutarbalikkan penemuannya bila hipotesisnya yang dijunjung tinggi yang disusun diatas kerangka pemikiran yang terpengaruh preferensi moral ternyata hancur berantakan karena bertentangan dengan moral memilih untuk membuktikan bahwa generasi muda kita berkesadaran tinggi.
Revolusi genetika merupakan babakan baru dalam sejarah keilmuan manusia, sebab sebelum ini ilmu tidak pernah menyentuh manusia sebagai objek penelaahan itu sendiri. Hal ini bukan berarti bahwa sebelumnya tidak pernah ada penelaahan ilmiah yang berkaitan dengan jasad manusia. Kesimpulan yang dapat ditarik dari seluruh pembahasan diatas menyatakan sifat menolak terhadap dijadikannya manusia sebagain objek penelitian genetika.

VII
ILMU DAN KEBUDAYAAN
Kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kuntjaraningrat (1974) secara lebih terperinci membagi kebudayaan menjadi unsur-unsur yang terdiri dari system religi, dan upacara keagaman, system dan organisasi kemasyarakatan, system pengetahuan, bahasa, kesenian, system mata pencaharian serta teknologi dan peralatan.
Allport, Vernon dan Lindzey (1951) mengindentifikasikan enam nilai dasar dalam kebudayaan yakni nilai teori, ekonomi, estetika, social, politik dan agama. Yang dimaksud nilai teori adalah hakikat penemuan kebenaran lewat berbagai metode seperti nasionalisme, emperisme dan metode ilmiah.
Indikator perkembangan sekarang cendrung untuk mempunyai karakteristik-karakteristik sebagai berikut: 1) memperhatikan tujuan dan strategi pembangunan nasional kita maka masyarakat Indonesia akan beralih dari masyarakat nasional kita yang rural agraris menjadi masyakat modern yang bersifar urban dan bersifat indurtri 2), pengembangan kebudayaan kita ditunjukkan kea rah perwujudan peradaban yang bersifat khas berdasarkan filsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia yakni pancasila.
Kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mencari pemecahan baru terhadap suatu masalah, nilai bersifat mendorong kea rah pengembangan segenap potensi ke budayaan dalam mewujudkan peradapan yang khas. Kreativitas sering dihubungkan dengan kreasi dibidang seni. Horace B. English dan Ava C. English (1958) mendefinisikan aktivitas sebagai kemampuan untuk menciptakan modus baru baik dalam ekspresi artistic. Untuk pertumbuhan artistic yang luhur selalu terdapat ladang moral yang subur. Kemajuan pesat di bidang ilmu dan teknologi yang ternyata tidak memberikan kebahagiaan yang hakiki menyebabkan manusia berpaling kembali kepada nilai-nilai agama.

VIII
ILMU DAN BAHASA
Manusia dengan segenap kemampuan kemanusiaannya, seperti perasaan, pikiran, pengalaman, pancaindra dan intuisi mampu menangkap alam kehidupannya dan mengabstraksikan tangkapan tersebut dalam dirinya dalam berbagai bentuk “ketahuan” umpamanya kebiasaan, akal sehat, seni, sejarah dan filsafat. Ketahuan atau knowledge ini merupakan terminology generic yang mencakup segenap bentuk yang kita tahu sepert filsafat, ekonomi, seni, beladiri, cara menyulam dan biologi sendiri.
Untuk membedakan tiap-tiap bentuk dari anggota kelompok ketahuan  (knowledge) ini terdapat tiga kriteria yakni 1) apakah objek yang ditelaah yang membuahkan ketahuan (knowledge) tersebut, 2) cara yang dipakai untuk mendapatkan ketahuan (knowledge) tersebut dan 3) untuk apa ketahuan (knowledge) itu dipergunakan atau nilai kegunaan apa yang dipunyai olehnya.
Salah satu dari bentuk ketahuan (knowledge) ditandai dengan: 1) objek antologis, pengalaman manausia yakni sgenap ujud yang tepat dijangkau lewat pancaindra atau alat yang membantu kemampuan pancaindra, 2) landasan epistemology; metode ilmiah yang berupa gabungan logika deduktif dan logika induktif dengan pengajuan hipotesis atau yang disebut ligico-hyhotelico-verifikasi 3) landasan aksiologis; kemasalahatan manusia artinya segenap ujud ketahuan itu secara moral ditunjukkan untuk kebaikan hidup manusia.
            Bentuk ketahuan (knoeledge) ini dalam bahasa inggris adalah science dengan demikian masalahnya adalah terdapat perbedaan antara knowledge dan science anatara ketahuan yang bersifat generic dan bentuk ketahuan yang spesifik yang mempunyai objek ontologism, landasan epistemologis dan landasan aksiologis yang khas.

IX
PENELITIAN DAN PENULISAN ILMIAH
            Selaku alat komunikasi pada pokonya bahasa mencakup tiga unsur yakni, pertama, bahasa selaku alat komunikasi untuk menyampaikan pesan (emotif), kedua, berklonotasi sikap aafektif dan ketiga berkonotasi pikiran penalaran. Atau secara umum dapat dikatakan bahwa fungsi komunikasi bahasa dapat diperinci lebih lanjut menjadi fungsi emotif, afektif dan penalaran.
            Perkembangan bahasa pada dasarnya adalah pertumbuhan ketiga fungsi komunikatif tersebut agar mampu mencerminkan perasaan, sikap dan pikiran suatu kelompok masyarakatyang mempergunkan bahasa tersebut. Argumentasi tersebut mengiring pada kesimpulan bahwa perkembangan bahasa Indonesia menjadi bahasa yang modern, haruslah memperhatikan ketiga unsur tadi seimbang.
            Struktur penelitian dan penulisan ilmiah yang secara logis dan kronologis mencerminkan kerangka penalaran ilmiah yakni; 1) pengajuan masalah yaitu suatu hal yang harus disadari bahwa pada hakikatnya suatu masalah tidak bisa berdiri sendiri dan terisolasi dari factor-faktor lain, 2) penyusunan kerangka teoris, setelah berhasil merum,uskan masalah dengan baik maka langkah yang kedua mengajukan hipotesis, hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap permasalahan, 3) metodologe penelitan,             setalah berhasil merumuskan hipotesis yang diturunkan secara deduktif dari pengetahuan ilmioah yang relevan maka langkah yang berikutnya adalah menguji hipotesis tersebut secara emperis. 4) hasil penelitian, setelah perumusan, pengajuanm hipoteses, penetaapan metodologi penelitian maka sampai kita kepada langkah yang berikutnya melaporkan apa yang ditemukan dalam penelitian. Sebaiknya bagian ini betul-betul dipergunakan untuk menarik kesimpulan penelitian. 5) ringkasan dan kesimpulan, kesimpulan pengujian hipotesis kemudian dikembangkan menjadi kesimpulan penelitian yang ditulis dalam bab tersendiri.  

C.      KOMENTAR
Buku yang berjudul filsafat ilmu sebuah pengantar popular karangan Jujun S. Suriasumantri ini telah menjelaskan tentang filsafat ilmu dengan rinci, pembahasan pada setiap pokok bahasan dimulai penulis dengan memaparkan fonemena-fonemena yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari masyarakat ilmu. Dengan contoh yang deberikan penulis ini, pembaca dengan mudah memahami materi yang disajikan penulis. Pembahasan yang sangat popular menyebabkan terhindar dari masalah-maslah yang bersifat rumit kontrovesial. Disamping memberikan contoh yang tidak jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat, penulis jaga menjelaskan dengan kaitan contoh tersebut dengan materi yang dibahas sehingga pembaca dengan cepat menentukan memahami tujuan materi yang dibahas. 
Selain hal diatas, buku filsafat ilmu sebuah pengantar popular karangan Jujun S. Suriasumantri ini dibandingakn dengan buku filsafat ilmu yang lainnya seperti

  1. Judul buku                  : Filsafat Ilmu
  2. Pengarang                   : Prof. Dr. Amsal Baktiar, M.A
  3. Penerbit                       : Rajawali Press 
  4. Jumlah halaman           : 251
  5. Cetakan                       : 2013
  6. ISBN                           : 979-421-993-2
Buku filsafat ilmu sebuah pengantar popular karangan Jujun S. Suriasumantri ini jauh lebih sempurna dan lebih mendalam kajianya dibandingkan buku karangan Prof. Dr. Amsal Baktiar, MA. Buku karangan Prof. Dr. Amsal Baktiar, MA., ditulis berdasarkan persiapan dan hasil diskusi ketika penulis mengajar mata kuliah filsafat ilmu. Dengan demikian  buku karangan Prof. Dr. Amsal Baktiar, MA., tentu mempunyai keunggulan tersendiri disbandingkan dengan buku karangan Jujun S. Suriasumantri, dilihat dari penyajian materi buku karangan Prof. Dr. Amsal Baktiar, MA., sangat simpel karena materi yang diuraikan merujuk pada pendapat para ahli sebelumnya, sedangkan buku karangan Jujun S. Suriasumantri mulai dari fenomena-fenomena yang dialami masyarakat ilmu pada umumnya. Pokok bahasan buku karangan Prof. Dr. Amsal Baktiar, MA., mencakup sejarah perkembangan ilmu, objek, metode, dan tujuan ilmu, serta hakikat sumber ilmu dan kriteria kebenaran, namuan mteri tersebut tidak dijelaskan dengan contoh.
Buku filsafat ilmu sebuah pengantar popular karangan Jujun S. Suriasumantri ini dibandingakn dengan buku kedua

a.       Judul buku                        : Filsafat Ilmu dan perkembangannya di Indonesia
b.      Pengarang             : Drs. Surajiyo
c.       Penerbit                 : Bumi Aksara
d.      Jumlah halaman     : 251
e.       Cetakan                 : 2013
f.       ISBN                     : (10) 979-010-064-7
            Buku karangan Drs. Surajiwo ini, membahas filsafat ilmu dan perkembanganya di Indonesia. Buku ini berpandangan kearah perkembangan ilmu dan filsafat pada masa sekarang. Pokok bahasan hanya dibahas sekedar penguat perkembangan filsifat ilmu di Indonesia, hal ini dapat dilihat pada hakikat pokok bahasan yang disajikan dalam buku ini. Bahasan buku ini hanya menjelaskan hakikat pokok materi itu hanya sekadar definisi menurut para ahli.
            Dari kedua buku pembanding ini, buku karangan Jujun S. Suriasumantri yang berjudul filsafat ilmu sebuah pengantar popular lebih sempurna. Dilihat dari bahasa mudah dipahami pembaca, dan setiap materi di iringi dengan contoh yang tidak jauh dari pikiran pembaca. Metode yang diterapkan pengarang dalam buku ini mengarahkan pembaca pada tujuan utama buku ini adalah untuk mengenal alur-alu berpikir dalam kegiatan keilmuan dan mencoba menerapkannya kepada masalah-masalah praktis dalam kehidupan kita.

D.      PENUTUP
Pandangan saya terhadap buku karangan Jujun S. Suriasumantri ini, dengan keberadaan buku ini akan menambah wawasan pembaca untuk mengenal lebih jauh filsafat ilmu meliputi ilmu filsafat, filsafat pengetahuan (epistemology) dan ruang lingkupnya; masalah ilmu pengetahuan meliputi sejarah, prinsip metologi, penemuan kebenaran, definisi kebenaran; mengenai pengembangan ilmu pengetahuan meliputi hubungan dan peran ilmu terhadap kebudayaan nasional, etika keilmuan, dan strategi pengembangan ilmu.
Buku ini bagus dijadikan sebagai referensi wajib bagi mahasiswa S1 maupun mahasiswa pascasarjana dalam mata kuliah filsafat ilmu, karena buku ini melatih kita menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam berpikir sesuai dengan aturan-aturan ilmiah, memberikan spirit bagi pengembangan dan kemajuan ilmu sekaligus nilai-nilai moral yang terkandung pada setiap ilmu, menyadari bahwa ilmu bahwa ilmu yang diperoleh jauh dari mencukupi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar